SARASEHAN BUDAYA PENDALUNGAN DI MUSEUM PROBOLINGGO


Menutup tahun 2010, sebuah kegiatan berlatar belakang budaya kembali digagas oleh Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata (DISPOBPAR) Kota Probolinggo. Kegiatan yang digelar di Musium Probolinggo pada hari Kamis, 9 Desember 2010, sekitar pukul 08.00 WIB tersebut bertujuan untuk menjaga dan mengidentifikasi kelestarian budaya lokal Kota Probolinggo. Selain itu, tujuan dari kegiatan ini adalah dalam rangka memperkenalkan warisan budaya lokal kepada generasi muda yang ada Kota Probolinggo agar generasi muda Kota Probolinggo ini tidak lupa dan tidak kehilangan akar budayanya.

Karena tujuan utamanya adalah memperkenalkan warisan budaya lokal terhadap generasi muda, maka tak salah kalau sebagian besar undangan yang hadir di Museum Probolinggo ini diisi oleh para pemuda dari kelompok teater de Koper.

Dalam acara yang dibuka dengan penampilan tari Jaran Bodhak tersebut tampak dihadiri pula oleh perwakilan dari Muspida Kota Probolinggo, juga perwakilan dari SKPD (Satuan Kerja Pemerintah Daerah) terkait serta dari unsur pendidik dan budayawan. Total, ada sekitar 60 peserta dan undangan yang hadir dalam kegiatan Sarasehan Budaya “Identifikasi Budaya Pendalungan” Kota Probolinggo.

Disadari atau tidak, entitas budaya pendalungan yang hidup dan berkembang di Kota Probolinggo merupakan aset yang besar dan penting untuk segera diidentifikasi dan dikembangkan dengan menyertakan langkah-langkah politik.

“Pendalungan adalah ketidakjelasan. Ketidakjelasan budaya ini, ya pendalungan itu tadi. Namun dari ketidakjelasan ini patut ditelusuri dan dicari pesamaan dan keunggulannya. Itulah sekiranya yang mendasari pemikiran atau tujuan dilaksanakannya sarasehan budaya bertajuk “Identifikasi Budaya Pendalungan” ini.” Terang Nunuk H. Setiowati, S.Sos., MM., Kabid Budaya di Dispobpar Kota Probolinggo kepada Suara Kota.

Memang, pendalungan bukanlah sebuah pilihan yang gagah dan glamour yang diambil oleh masyarakat Kota Probolinggo ataupun masyarakat lainnya yang tinggal di sekitar wilayah “tapal kuda” sebagai identitas budaya. Tetapi secara psikologis dan spiritual, identitas budaya pendalungan bisa jadi nilai-nilai lokal yang mahal dan sangat diperlukan.

Dalam pengertian umum, budaya atau masyarakat pendalungan adalah suatu konsep yang masih belum final makna dan batasannya. Konsep ini sering digunakan untuk menunjukkan suatu komunitas masyarakat hasil percampuran budaya antar etnis, khususnya etnis Jawa dan etnis Madura, ditambah dengan beberapa etnis lain yang kurang dominan di wilayah “tapal kuda” Jawa Timur. Proses dialektika budaya yang terjadi selama berpuluh-puluh tahun tersebut pada akhirnya melahirkan produk-produk kebudayaan yang mencerminkan budaya induk, yakni budaya Jawa dan Madura, atau bahkan melahirkan produk-produk lain yang sama sekali baru. Dalam beberapa hal, memang kebudayaan pendalungan merupakan sebuah identitas yang dilematis. Di dalam masyarakat pendalungan terdapat aneka karya seni budaya yang bervariasi, tidak monokultur. Karena itu harus dilakukan banyak diskusi untuk menentukan skala proritas pengembangan seni budaya.

“Pendalungan adalah percampuran, dan percampuran ini tidak hanya percampuran genetis atau biologis saja, tetapi juga percampuran budaya atau kultural.” Demikianlah yang disampaikan oleh Drs. Hary Kresno S., MM., pemerhati budaya sekaligus dosen di Fakultas Sastra Universitas Negeri Jember yang merupakan salah satu pembicara dalam Sarasehan Budaya “Identifikasi Budaya Pendalungan” ini.

Selain Hary Kresno, budayawan lainnya yang didaulat sebagai pembicara dalam diskusi panel tentang budaya pendalungan ini adalah Drs. Christanto R. Raharjo, M. Hum., dan Drs. M. Ilham Zoebazary, M.Si . yang sama-sama berasal dan mengajar sebagai dosen di Fakultas Sastra Universitas Negeri Jember juga.

Jika identitas pendalungan dijadikan sebagai pilihan, maka langkah berikutnya adalah membangun konsep pengembangan seni-budaya pendalungan yang membumi dan realistis. Untuk kepentingan tersebut, diperlukan suatu stategi kebudayaan yang ideal, yang tidak menimbulkan pertentangan dan pertiaian akibat kemajemukan nilai-nilai budaya yang ada dalam masyarakat .

Tujuan utamanya tentang perlunya konsep pengembangan seni-budaya pendalungan adalah tercapainya internalisasi identitas pendalungan pada diri setiap warga di wilayah pendalungan. Masyarakat dan pemerintah harus menyadari bahwa mereka adalah ahli waris kemajemukan budaya. Kemajemukan seni-budaya adalah kelemahan dan kekuatan. Sebuah perbedaan dapat menjadi starting point bagi perpecahan dan pertikaian, sekaligus fondasi bagi lahirnya produk-produk baru seni-budaya. Perbedaan tersebut seharusnya saling memperkaya, bukan saling menegasikan. Hukum alam biasanya mengarah pada hegemoni nilai-nilai mayoritas. Untuk itulah diperlukan sebuah strategi, dimana strategi kebudayaanlah yang nantinya akan membimbing agar budaya-budaya mayoritas tak mengsubordinatkan yang minoritas.

Kegiatan yang rencananya akan dilaksanakan sebagai agenda rutin tahunan ini, menghasilkan sebuah rekomendasi, diantaranya berisi tentang perlunya lembaga Pusat Kajian Pendalungan yang akan melakukan kajian dan penelitian secara kritis dan komprehensif menyangkut potensi sosial, budaya, ekonomi dan politik yang ada dalam masyarakat di wilayah pendalungan sehingga akan menghasilkan temuan-temuan yang bisa dipublikasikan, baik dalam skala nasional maupun internasional. (stebby)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: