SOSIALISASI PENDIDIKAN INKLUSIF BAGI GURU-GURU SD DI KOTA PROBOLINGGO


“PENDIDIKAN adalah hak seluruh Warga Negara Indonesia”, Pasal 34 UUD 1945.

Berbincang tentang masalah pendidikan memang tiada habisnya. Terlebih lagi untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Karena pendidikan adalah hak seluruh Warga Negara Indonesia, dan anak-anak berkebutuhan khusus merupakan bagian dari Warga Negara Indonesia, maka mereka pun berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak sebagaimana anak-anak normal lainya.
Untuk semakin memberikan pemahaman mengenai hal tersebut, maka Jumat kemarin (3/12), Dinas Pendidikan Kota Probolinggo mengadakan Sosialisasi Pendidikan Inklusif bagi seluruh guru-guru tingkat Sekolah Dasar di Kota Probolinggo.

Dalam sosialisasi yang digelar di Aula Dinas Pendidikan itu, hadir sebagai narasumber adalah Drs. Sujarwanto, M.Pd. dari Fakultas Ilmu Pendidikan Unesa Surabaya yang berbicara mengenai Pendidikan Inklusif serta Perkembangannya di Jawa Timur, dan juga Dr. Saudi M.Kes. dari Universitas Negeri Malang yang memberikan paparan mengenai Instrumen Baru P2DB (Penerimaan Peserta Didik Baru) di Tingkat Sekolah Dasar yang dapat mengembangkan 12 tingkat kecerdasan anak.

Keberadaan pemateri kedua yang turut disertakan oleh Dinas Pendidikan pada program sosialisasi sekolah inklusif yang berlangsung kali ini memang cukup penting. Mengingat, diakui maupun tidak diakui, ada banyak kesalahan dalam materi tes P2DB yang diberlakukan di sekolah-sekolah dasar saat ini dan tentunya hal tersebut berimbas pada pola pendidikan yang diterapkan atau berlangsung di tingkat Taman Kanak-Kanak (TK). Sejak pemberlakuan tes atau seleksi P2DB, maka sejak itu pula kebahagiaan dan kebebasan anak-anak TK dalam bermain sudah direnggut untuk mempelajari calistung (baca, tulis dan hitung) yang diajarkan secara klasikal oleh guru-guru mereka di TK. Bahkan tak jarang, para wali murid atau orang tua yang ingin putra-putrinya berhasil dalam tes ini, serta diterima di SD-SD favorit, masih menitipkan anak-anak mereka ke dalam sebuah lembaga bimbingan belajar untuk kembali belajar tentang calistung, yang lagi-lagi diajarkan secara klasikal oleh guru-guru pembimbing mereka di lembaga bimbingan belajar tersebut. Dan hal ini tentunya sudah menyalahi arti atau makna sebenarnya dari Taman Kanak-Kanak (TK) itu sendiri, dimana sejatinya taman kanak-kanak adalah tempat untuk bermain dan belajar bersosialisasi dengan teman sebaya serta lingkungannya.

Pada program sosialisasi yang dimulai tepat pada pukul 08.00 WIB tersebut, dihadiri oleh: HIMPAUDI (Himpunan Pendidikan Anak Usia Dini Indonesia), Forum PAUD Kota Probolinggo, Kepala Sekolah TK/RA, Kepala SD/MI, Pengawas TK dan SD, Kepala UPTD dan Penilik PLS se-Kota Probolinggo serta guru-guru tingkat Sekolah Dasar yang ada di Kota Probolinggo.

Berdasarkan Permendiknas No 70 tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif Bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan atau Bakat Istimewa, Pendidikan Inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik lainnya yang tujuannya adalah memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental dan sosial atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa untuk memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya, juga untuk mewujudkan penyelanggaraan pendidikan yang menghargai keanekaragaman dan tidak diskriminatif bagi semua peserta didik.

“Inti dari Pendidikan Inklusif adalah menghilangkan label LB (luar biasa, red)” ungkap Dra. Sri Hartini, Kasi TK dan PLB di Dinas Pendidikan Kota Probolinggo kepada Suara Kota.

“Sementara ini masih banyak orang tua yang merasa malu karena anak-anaknya bersekolah di SLB. Bahkan mereka lebih cenderung menyembunyikan anak-anak mereka itu, menguncinya di dalam rumah, memasungnya serta membatasi hak-hak mereka untuk memperoleh pendidikan yang layak. Maka diharapkan dengan adanya sekolah inklusif ini, hal-hal atau kasus-kasus seperti itu tidak terjadi lagi.” Terang Sri Hartini menjelaskan harapannya.

Lebih lanjut Sri Hartini menjelaskan bahwa di dalam pendidikan inklusif, kita tidak lagi mengenal istilah anak cacat melainkan anak-anak berkebutuhan khusus.

Yang dimaksud dengan anak-anak bekebutuhan khusus adalah anak-anak yang menyandang cacat tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, tunaganda, anak-anak yang mengalami kesulitan belajar, autis, mengalami gangguan motorik, dan anak-anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba.

“Jadi bukan anak-anak yang cacat fisik saja yang termasuk anak-anak berkebutuhan khusus. Tetapi juga anak-anak yang kurang mendapatkan perhatian orang tua, anak-anak korban narkoba, dan lainnya.” Jelas ibu yang sangat prihatin terhadap perkembanan anak-anak berkebutuhan khusus ini.

Meski belum ada label “resmi” dari Dinas Pendidikan Kota Probolinggo, di Probolinggo ternyata sudah ada dua sekolah yang menyelenggarakan pendidikan inklusif atau menerima murid-murid berkebutuhan khusus tersebut. Dua sekolah itu adalah SDN Jati V dan SDN Mangunharjo XII Kota Probolinggo. Dan sesuai dengan rencana Dinas Pendidikan tahun depan, dua sekolah inilah yang nantinya bakal menjadi pilot project untuk sekolah inklusif yang ada di Kota Probolinggo.

“Memang, menurut Permendiknas No. 70, pemerintah di tingkat kabupaten atau kota wajib menyediakan minimal satu sekolah dasar dan sekolah menengah pertama juga satu satuan pendidikan menengah untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif.” Ujar Sri Hartini kepada Suara Kota saat ditanya lebih lanjut mengenai perkembangan sekolah inklusif di Kota Probolinggo.

Sebagai pembuktian akan keseriusan program Dinas Pendidikan tersebut, Suara Kota mencoba bertandang di SDN Jati V, sebagai salah satu sekolah yang telah menyelenggarakan pendidikan inklusif di Kota Probolinggo.

Memang benar. Malah rupanya sejak 3 tahun yang lalu, SDN Jati V telah menyelenggarakan program pendidikan inkulsif di sekolahnya.

Ditemui di tengah-tengah kesibukannya mempersiapkan soal-soal ujian akhir semester, Endang Sri Rahayuningsih, M.Pd., Kepala Sekolah SDN Jati V Kota Probolinggo menjelaskan alasan pribadinya dibalik penerimaan anak-anak berkebutuhan khusus tersebut.
“Semua berawal dari nurani. Saya merasa tersentuh melihat kesungguhan dan kegigihan anak-anak ini untuk bersekolah.” Terang Endang.

Meski begitu SDN Jati V ternyata masih memberlakukan aturan batasan atau persyaratan khusus bagi orangtua yang ingin menyekolahkan anak-anak mereka, yang berkebutuhan khusus itu, di tempat ini. Persyaratan tersebut adalah SDN Jati V hanya menerima anak-anak yang memiliki cacat tubuh serta anak-anak autis yang orangtuanya mau bekerjasama dengan psikiater yang mengkontrol dan memberikan laporan periodik tertulis mengenai perkembangan kejiwaan dan pelajaran anak tersebut secara tertulis kepada pihak sekolah.

“Semua ini terkait dengan pagu dan SDM yang kami miliki. Karena memang kami belum memiliki guru khusus yang menangani anak-anak berkebutuhan khusus ini. Untuk itulah aturan ini terpaksa kami terapkan.”

Saat ini, total ada 20 anak berkebutuhan khusus dari kelas 1 hingga kelas 6 yang bersekolah di SDN Jati V. Dengan bimbingan dan arahan, anak-anak berkebutuhan khusus itu pun ternyata mampu untuk mengikuti setiap satuan mata pelajaran bahkan beberapa dari mereka ada yang sangat berprestasi.

“Tahun kemarin, kami telah meluluskan Ajib (Moh. Ajibah, red.). Saat ini ada di SMP Muhammadiyah. Dia sangat unggul di pelajaran yang berbau hapalan dan juga imtaq. Kemampuannya mengaji dan mengikuti pelajaran agama sangat mengagumkan. Hingga akhirnya saya memberikan satu penghargaan khusus untuknya.” Jelas Endang yang sejak tahun 2006 menjabat sebagai Kepala Sekolah di SDN Jati V tersebut.

Memang masih banyak PR besar yang harus dikerjakan oleh dinas Pendidikan untuk mewujudkan keberhasilan pelaksanaan Pendidikan Inklusif di Kota Probolinggo, Di antaranya adalah mempersiapkan guru khusus bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus tersebut, mengadakan penataran atau pelatihan untuk guru dan kepala sekolah yang menyelenggarakan pendidikan inklusif serta termasuk menyiapkan kelengkapan sarana dan prasarana yang dapat menunjang berjalannya proses belajar mengajar di sekolah-sekolah inklusif. Namun paling tidak, sosialisasi ini adalah sebuah langkah awal, sebuah batu pijakan, guna mewujudkan cita-cita luhur bangsa yakni pendidikan untuk semua. (stebby)

2 Responses to “SOSIALISASI PENDIDIKAN INKLUSIF BAGI GURU-GURU SD DI KOTA PROBOLINGGO”

  1. artikel yang bagus,,, low pengen tau gimana cara ngajar yang efektif d SD klik aja di http://ilmukami.co.cc

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: