in love with PUNK


Melihat Lebih Dekat Kelompok-Kelompok Marginal yang ada di Kota Probolinggo (-1)

 

punk

Mungkin bagi sebagian orang ini hanyalah sebuah kebetulan yang tak terduga. Sebuah ketidakpastian kompleks yang pada suatu saat ujung-ujungnya saling bertemu dan bersinggungan, saling mengikat, saling menjalin dan berpilin satu dengan yang lain. Namun bagiku, ini seperti sebuah MUJIZAT. Seperti sedang menyatukan kepingan-kepingan puzzle yang awalnya terberai.

Bagaimana tidak, awalnya aku mengenal Jimmy Tattoo dari Jaka dalam kesempatan yang sama sekali berbeda dengan yang kualami hari ini. (Saat itu, aku mengenal Jimmy yang berprofesi sebagai seniman tattoo sedang menunaikan tugas, kewajiban dan tanggung jawabnya untuk mentato sahabatku itu yang badannya ingin dipoles layaknya seorang Yakuza.) Lalu sempat pula keluar malam mingguan bersama, bareng sama Shendy Imas dan Agnez juga, menikmati keramahan yang ditawarkan oleh Kedai Melati-nya Inex di Pantai Bentar sono bahkan sempat kenalan pula sama Puna (si anak Punk yang punya rambut pink). Dan ternyata hari ini, kukenal Jimmy sebagai sebuah figur yang sama sekali baru seperti seekor phoenix yang tengah dilahirkan kembali. Ternyata Jimmy Tattoo adalah salah satu “bokapnya si anak punk” (untuk tidak menyebut dengan sebutan “dedengkot” karena di komunitas punk tidak berlaku strata sosial)

Awalnya… memang aku ma Agnez janjian hari ini untuk interview tentang komunitas atau kampung China yang ada di Kota Probolinggo. Tapi rupanya yang dikhawatirkan Agnez pada malam sebelumnya jadi kenyataan. Mereka amat sangat tertutup meski sama Agnez yang sama-sama China-nya. I can’t blame them. 32 tahun masa pemerintahan orde barulah yang membuatnya seperti itu. Saat itu mereka termarginalkan, maka tak salah kalau kini mereka masih memasang tembok yang sangat tinggi dan selalu curiga pada orang asing. Lalu kami pergi ke kampung Arab, dengan tujuan yang sama, sama-sama reportasenya, tapi ternyata Abi-nya sedang keluar kota. Ya sudah, besok saja, pikirku.

Berlanjut niat pergi ke stasiun dengan niat awal membeli kura-kura, kura-kuranya nggak ada, malah ngeliat banyak anak punk yang lagi ngumpul di stasiun. Ada apa ini??!! Agnes memberitahuku kalau sekarang (17/10), hari ini tuh diadakan Probolinggo Berisik II, sebuah konser musik untuk komunitas punk, heavy metal, hard core  dan underground.

Tweeeiiiiiinnkkkk!!!
Ini bahan berita yang bagus untuk tulisanku. Tentang komunitas-komunitas pinggiran, kelompok-kelompok minoritas, atau masyarakat marginal yang sebelumnya tak pernah tersentuh oleh media, apalagi Suara Kota.

Probolinggo Berisik II, Mbah Hadi Rebel & Idealisme Anak Punk

“song is my weapon and lyrics are my bullets.”

Jimmy Tattoo membantuku bertemu dengan narasumber yang tepat seputar kegiatan Probolinggo Berisik. Aku dipertemukan dengan Kunyil dan Hadi Rebel, sang Ketua Pelaksana Lapangan dan Seksi Acara kegiatan Probolinggo Berisik II.

Ketika kutanya pada Hadi (panggilan akrab mBah Hadi Rebel, pen.) kenapa kok namanya “berisik”? Kengapa kok harus Probolinggo Berisik? Jawabannya sungguh di luar dugaan: “Karena tidak 4L4y.” Hahaha…. Aku pikir jawabannya akan senjelimet apa, yang mengusung semangat dan juga didasari oleh seidealis mereka, tapi ternyata tidak, hanya sesimpel itu, “Karena tidak 4L4y.” “Karena memang aliran musik yang diusung dalam konser ini bukan diperuntukkan untuk “anak 4L4y”. Ini adalah konser musik aliran keras, musik-musik underground, musik-musik yang ekstrim.”

Well, kapan sebenarnya Punkers Probolinggo lahir dan di mana?
Sekitar tahun 97/98 di Probolinggo lahir yang namanya Komunitas Brak. Itu tempatnya ya di depan lampu merah. Punkers sebenarnya bukan orang yang miskin, bahkan tak jarang dari kami lahir dari anak orang yang berada. Tapi kami orang yang bebas. Jadi kami hidup di jalan, makan ya di jalan, termasuk juga nge-sex ya di jalan. (ujarnya sembari bergurau. hahaha… kami sama-sama tertawa) Lalu semenjak ada penertiban, komunitas kami berpindah di Graha (Gedung Graha Bina Harja, pen.) Maka dari itulah sekarang namanya Graha Street Crew.

Siapa pendirinya? Ketuanya?
Kita nggak mengenal yang namanya pendiri, penggagas, dedengkot dan lain sebagainya. Apalagi yang namanya KETUA. (ada penekanan kata saat menyebut “ketua”) Seperti prinsip kebersamaan dan persamaan yang kami anut, kami tidak mengenal istilah strata atau tingkatan. Bagi kami, anak punk, semua sama. Tapi kalau ditanya mengenai awal mula lahirnya komunitas Punkers Probolinggo, kayaknya Imam Botol dan Aak Soleh lah yang bertanggung jawab terhadap hal tersebut.
(setelah bertemu dan diperkenalkan dengan Imam Botol di spot acara Probolinggo Berisik II, ternyata dia tuh kawanku waktu SD dulu dan istrinya juga sama-sama temenku di gereja, putrinya Pak Jhony PW)

Sebenarnya apa yang ingin kalian usung?
Ideologi. Kami anti yang namanya sistem. Kami penganut kebebasan. Kami menolak pemerintahan yang korup. Kami anti pada pembangunan yang ada sekarang ini, pembangunan yang mengoptimalkan pada sarana dan prasarana tapi tidak pada moral bangsanya. Kami anti kemapanan.

Ngomong-ngomong soal kebebasan, bukankah pada dasarnya untuk menjadi manusia yang dewasa, semakin kita dewasa, semakin kita terkukung sama yang namanya aturan-aturan, norma-norma sosial yang ada di masyarakat. Berarti bisa dibiliang, maaf sekali lagi nih, kalian ga dewasa dong! Bukankah jalan kaki saja kita tuh ada aturannya. Atau misalnya bagaimana kita bersikap dengan orangtua kita sendiri, kan harus mengikuti kaidah dan sopan santun yang ada.
Bebas lho ya… nggak berarti liar. Kalau bebas itu ada aturannya tapi kalo nggak ada aturannya tuh berarti liar.

Kembali ke soal Probolinggo Berisik, sebenarnya sejak kapan kegiatan ini… atau konser Probolinggo Berisik ini ada?
Probolinggo Berisik I diadakan 7 bulan lalu, tepatnya 28 Maret 2010 di Kelurahan Jati.

Jenis musik apa saja yang ditampilkan di konser ini?
Macem-macem lah… Nggak selalu punk saja, musik-musik underground seperti hard core dan black metal juga ada.

Kalau kamu sendiri, Had, apa alirannya?
Anarckpunk.

Apa itu?
Anarckpunk itu salah satu aliran musik punk yang konsen terhadap masalah masalah politik dan pemerintahan.

Ada berapa macam sih aliran punk itu?
Banyak. Banyak sekali. Coba browsing saja deh…

Sejauh mana semangat anti kemapanan itu diusung dalam konser ini?
Konser ini adalah senjata kami menentang sistem. Konser ini adalah sejata kami menentang pemerintahan. Lagu adalah senjata kami dan lirik adalah pelurunya. “Song is my weapon and lyrics are my bullets.”

Maksudnya, apakah ada aturan tertentu bahwa untuk datang ke tempat ini harus ngecer plus ngandol-ngandol angkot? Apa ga boleh naik angkutan?
Kalau itu sih terserah mereka. Intinya kami tuh menerapkan prinsip kebersamaan dan do it yourselves, lakukan dengan caramu sendiri. Mereka berangkat dengan dana mereka sendiri, dengan uang mereka sendiri, tidak ada yang minta. Mangkannya yang terlihat, mungkin kesannya terlihat banyak anak urakan yang penampilannya brutal, pakaiannya item-item, ga pernah mandi, yang jalan kaki bergerombol-gerombol atau numpang-numpang di truck atau mobil pick up orang.

Dari mana saja nih pesertanya yang ikut Probolinggo Berisik II? Selain Probolinggo tentunya.
Ada dari Bali, Surabaya, Jakarta, Malang dan Jember.

Dengan tampilan kalian yang seperti ini, maaf, aneh menurut takaran masyarakat umum, apa mudah mendapatkan ijinnya? Bahkan sempat berhembus rumor kalau kalian tidak ijin untuk mengadakan kegiatan ini.
Enak saja. Kami ijin kok. Kami mengikuti aturan yang ada. Kami tidak seanarkis kenampakannya. Tidak sebrutal yang kalian kira. Bagi kami, anarkis bukanlah merusak sarana dan prasarana pemerintah atau menggunakannya tanpa ijin tetapi menghancurkan sistem.

Apakah benar ijin kalian dipersulit?
Tidak ada itu istilah Dinas Perijinan mempersulit perijinan bagi kegiatan ini. Tapi ya tuh tadi karena konsernya bersifat swadana, DIY (Do It Yourselves): no promo, no komresil n no sponsor, jadi memang tidak mudah mengadakan sebuah acara atau kegiatan konser musik seperti ini.

Mengenai stigma masyarakat?
Nah tuh dia, punkers tuh duren. Buruk, tajam dan berduri di luar tapi manis, nikmat harum dan lembut di dalam.

Terakhir, apa yang ingin kalian sampaikan kepada pemerintah?
Ya itu tadi. Pembangunan jangan diutamakan sampulnya. Misalnya untuk membangun infrastruktur taman dalam proyek pertamanan, satu taman dibutuhkan dana lebih dari 30 jutaan. Coba kalau dana itu diberikan bagi masyarakat miskin. Ada berapa masyarakat miskin yang bisa terbantu? (ungkap Hadi sembari memberikan pertanyaan retorik) Lalu melarang produk rokok, melarang orang merokok dan menerapkan pajak yang besar terharap rokok namun masih saja bergantung dan menggunakan dana tersebut.

Well, salah seorang dosen saya pernah berkata, ketika kita mendobrak sistem sebenarnya tanpa kita sadari kita terperangkap dalam sistem baru.  Dan inilah sistem baru itu… idealisme dan paham yang diterapkan oleh anank-anak Punk, anggota Punkers tersebut.
Dan kini… saya serahkan kembali pilihannya kepada Anda…

2 Responses to “in love with PUNK”

  1. post comment Says:

    wow punk tak seseram penampilannya
    aku takut kalau dekat dekat gak berani liat bagian wajah, jadi kalau ada lewat nunduk aja

  2. andai saja pemikiran para pejabat sebijak imam botol. mungkinkah Indonesia berada disistem yang baik untuk mensejahterakan masyarakatnya???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: