KRITIKAN terhadap DUTA WISATA!!


Setelah saya di nobatkan sebagai duta wisata, Saya berusaha untuk selalu mengakses beberapa link / web yang berhubungan dengan Seni, Budaya, dan Pariwisata dan atau segala aspek yang berhubungan dengan hal itu, akhirnya saya menemukan link yang di dalamnya mengkritisi tentang DUNIA DUTA WISATA, ternyata Dunia Pariwisata mendapat Sorortan dari beberapa Pihak, berikut cuplikan argument nya:

Perhelatan pemilihan duta wisata yang digelar di beberapa daerah belakangan ini menyedot antusiasme yang tinggi dari para putra-putri daerah. Duta wisata yang diharapkan dapat mewakili daerahnya dalam upaya mempromosikan potensi dan aset wisata daerahnya, juga diharapkan bagi yang terpilih menjadi duta wisata adalah sosok duta wisata yang kreatif, inovatif, percaya diri, berpengalaman dan berjati diri. Hal itu ditunjang oleh penampilan yang simpatik, yang kemudian diarahkan untuk dapat menggapai visi terwujudnya duta wisata sebagai generasi yang berkualitas, santun, berdedikasi untuk melestarikan budayanya. Selain itu juga dapat berperan aktif dalam mempromosikan kepariwisataan.

Penyelenggaraan pemilihan duta wisata merupakan bagian integral dari pembangunan dunia pariwisata serta pelestarian nilai-nilai seni dan budaya nasional. Kriteria penilaian duta wisata senantiasa ditingkatkan kualitasnya dengan menitikberatkan kepada keterpaduan seluruh komponen penilaian secara menyeluruh. Hal itu menyangkut perpaduan terbaik dari aspek-aspek yang mencakup pengetahuan umum pemerintah pusat dan daerah; pengetahuan sejarah dan kebudayaan daerah; pariwisata dan public speaking; etika busana dan penguasaan bahasa; psikologi dan pengembangan diri.

Perlu diketahui, ajang pemilihan duta wisata merupakan atraksi wisata yang bertujuan melestarikan budaya daerah. Sekaligus sarana pengembangan potensi bakat, kreativitas, kecerdasan para generasi muda untuk menjadi figur yang dapat berperan dalam mempromosikan kekayaan seni, budaya dan pariwisata. Serta menghilangkan citra sebagai pelengkap kegiatan atau pajangan saja. Melalui ajang ini para finalis duta wisata diharapkan dapat memiliki disiplin, dedikasi, dan tanggung jawab yang tinggi untuk membantu pemerintah daerahnya dalam memamerkan serta mempromosikan keanekaragaman kebudayaan daerah kepada wisatawan. Sebagai duta wisata, selain harus mampu mempromosikan dunia wisata daerahnya dan sekaligus membantu pemerintah daerah mengajak warga untuk menjaga budaya bersih, indah, dan tertib yang akhirnya menghasilkan masyarakat yang bersih, bermoral, serta bermental baik. Di samping itu, pemilihan duta wisata diharapkan juga mampu menjadi inspirator dan motivator bagi generasi muda dalam menjalankan peran dan fungsinya di masyarakat.

AJANG POPULARITAS??

Hakikatnya, acara pemilihan duta wisata hanya dinilai dari pengetahuan dan kematangan individu secara personal dan bukan sosial. Seharusnya pemenang dari kegiatan ini adalah orang yang telah berbuat banyak untuk kemajuan daerahnya. Kata kuncinya adalah telah berbuat dan bukan telah berteori saja atau punya ilmunya. Akhirnya ketika sang pemenang hanya dinilai dengan kriteria tersebut, output pemilihan duta wisata tidak akan tercapai. Buktinya, pemilihan duta wisata yang digelar di beberapa daerah dalam sekian tahun terakhir, selama itu pula kita tidak bisa melihat pembuktian dari para duta wisata. Pada akhirnya kita hanya melihat sebuah kegiatan rutinitas tanpa hasil yang jelas. Beginilah nasib bangsa ini yang selalu menghabiskan uang rakyat tetapi bukan untuk rakyat. Mengkritik persoalan ini jelas tidak akan membawa banyak perubahan, karena persoalannya terletak pada kriterianya. Pastikan pemenangnya adalah orang yang mempunyai knowledge, skill, dan attitude yang baik yang diaplikasi ke dalam kehidupan sehari-hari.

Sesungguhnya, tujuan pemilihan duta wisata sendiri sudah menyimpang dari tujuan awalnya, yang memilih duta untuk mewakili kebudayaan daerahnya sendiri. Kebanyakan peserta menjadikan ajang ini sebagai pencarian popularitas dan tampil belaka. Beberapa pengetahuan yang mereka miliki tentang kebudayaan daerah hanyalah informasi seadanya dari bacaan-bacaan yang mereka hafalkan selama proses pemilihan. Walaupun tidak sedikit yang mengakui potensi individual dan karakteristik dari pemenang duta wisata tersebut. Namun, peranan dan kontribusi mereka sebagai duta wisata yang notabene “ikon”nya daerah setempat masih jarang kita dengar. Sementara ini tugas duta wisata masih samar-samar, seharusnya dilakukan perubahan terhadap kriteria dan outcome-nya supaya duta wisata dapat menjadi sebuah ajang yang benar-benar berguna. Terlebih pada kenyataannya pemenangnya belum mampu membuktikan kalau mereka bisa mempertanggung jawabkan apa yang telah mereka dapatkan.

Sebagai tambahan, fakta bahwa duta wisata mayoritas berstatus pelajar dan mahasiswa, juga menyulitkan perkembangan ide dan kontribusi mereka karena kesibukan pribadi. Lain halnya apabila mereka dicutikan dan dipekerjakan untuk Dinas Pariwisata sebagai staf pengembangan dan promosi pariwisata. Jadi untuk mengatakan bahwa duta wisata adalah pajangan kurang lebih tepat. Sebab, setelah event duta wisata mereka tidak diberdayakan dengan maksimal untuk keperluan Dinas Pariwisata sehingga pada akhirnya hanya muncul pada saat acara-acara seremonial dan bagi-bagi amplop di kantor.

Untuk perbandingan dengan yang terjadi di luar negeri, kebanyakan pemenang kontes serupa biasanya langsung terjun mengerjakan kegiatan sosial yang membantu masyarakat yang dampaknya sangat besar. Dari memberikan semangat kepada tim dance di sebuah universitas kecil, sampai menjadi juru bicara berbagai organisasi sosial besar. Segala sesuatu yang dapat dikerjakan pasti mereka laksanakan sesuai misi dan visi komite kontes dan juga pemenang kontesnya. Lebih menarik lagi media juga ikut memberitahukan kepada masyarakat tentang kontribusi dan hasilnya lewat majalah atau berita di televisi, sehingga masyarakat mengetahui segala sesuatu yang telah dilakukan para pemenang kontes.

Harapan kita, duta wisata ke depan semakin berkembang dan berfungsi sebagai duta pariwisata dan duta budaya. Sehingga bisa dilihat hasilnya bukan hanya dilihat dari segi umum saja, karena kita tidak bisa menilai segala sesuatu hanya dari satu sudut pandang saja. Secara konkret, seorang presiden pun tidak semudah membalikkan telapak tangan dalam menjalankan dan mengatur sebuah negara. Apalagi hanya seorang duta wisata yang tidak mudah mendapatkan segala fasilitas untuk melakukan promosi budaya dan promosi wisata. Namun, perlu diakui bahwa ajang pemilihan duta wisata dapat membawa perubahan dalam pribadi dan tingkah laku para generasi muda, karena setelah mengikuti ajang pemilihan duta wisata, rasa cinta budaya menjadi semakin mengental di dalam diri.

Mulai sekarang, seluruh duta wisata harus dapat menunjukkan kalau memiliki niat baik dalam memberikan kontribusi bagi daerahnya, karena belum terlambat untuk memulai sesuatu yang baik. Andaikan tidak dilakukan, duta wisata hanya akan menjadi ikon pemborosan yang dilakukan oleh pemerintah daerah setempat yang tidak dapat meninggalkan kesan apa pun yang hilang tertelan waktu. (***)

Sebagai Seorang Duta Wisata, sudah seyogyanya membuktikan bahwa seorang duta wisata memiliki kewajiban untuk menjalankan tugasnya dengan baik, baik secara terstruktur maupun secara tidak.

ini link yang telah saya temukan:

http://harianjoglosemar.com/berita/duta-wisata-hanya-pajangan-21044.html

tulisan ini adalah milik Sdr. Taseem Khoirul Adzam, dan ini adalah link notes pribadinya di Facebook:

http://www.facebook.com/notes/taseem-khoirul-adzam/kritikan-terhadap-duta-wisata/422236237454

Advertisements

6 Responses to “KRITIKAN terhadap DUTA WISATA!!”

  1. Teguh Satriawan Says:

    Saya setuju dengan tulisan anda, seorang duta wisata harus memiliki program yang jelas dan dapat di implementasikan minimal untuk masyarakat sekitarnya… bukan hanya sekedar kemampuan fisik dan model, apalagi sekedar membawa nampan dan kalungan bunga di acara-acara protokoler

  2. Saya Danang Setia Budi, Mas Pati 2010.
    Pada hakekatnya, sebuah pemilihan Duta Wisata memang sangat berpengaruh dalam pembangunan pariwisata di daerahnya. Akan tetapi banyak faktor yang mempengaruhi “kurang efektifnya kerja Duta Wisata”.
    Hal-ha itu antara lain:
    1. Ada beberapa daerah yang tidak memiliki universitas, sedemikian sehingga para calon duta wisata yang mendaftar berasal dari SMA yang notabene masih disibukkan dengan kegiatan sekolah. Mengingat batasan umur, mayoritas siswa yang mendaftar pastilah kelas 3 yang hampir menghadapi ujian nasional dan ujian saringan masuk perguruan tinggi.
    2.Tidak adanya koordinasi antara pemerintah yang menguruskan izin untuk “cuti dinas” dari pekerjaan yang seharusnya. Akibatnya, akan sangat menguras waktu bagi yang bersangkutan dalam melaksanakan tugasnya sebagai duta wisata.
    3.Penjurian Duta Wisata cenderung melihat sisi yang ditunjukkan oleh peserta di saat itu, yakni dengan wawancara atau apapun. Memang objektif (mungkin), tapi alangkah baiknya juri menilai kepribadian juga, dimana mengharuskan juri selalu berada diantara peserta setiap saat, bukan hanya saat peserta akan tampil untuk dinilai. Akibatnya, sisi yang tidak tampak oleh juri itu tidak bisa menjadi nilai minus dari setiap peserta. Ini menyangkut masalah motivasi dan lainnya.
    4.Ketidakjelasan paguyuban duta wisata setempat, akibat kurangnya dana, atau tidak berdomisilinya anggota paguyuban tersebut di daerah yang di-duta-i.

    Sekian pemikiran dari saya. Untuk dapat mengkomunikasikan lebih lanjut, dapat menghubungi saya. Profil saya ada di blog saya
    terima kasih. 🙂

  3. blogfernandes Says:

    Itu sangat tergantung dari pemerintah kota dan paguyuban dr duta wisata itu sendiri,.
    Dan setahu saya beberapa daerah(termasuk daerah saya -kota malang-) sudah memanfaatkan duta wisata sebagaimana seharusnya, dan paguyubanpun mendukung dengan membuat event2 yg menarik wisatawan, atau minimal event yg dapat mengenalkan wisata dan budaya itu sendiri ke generasi muda dan masyarakat sekitar,sehingga diharapkan masyarakat khususnya generasi muda dapat lebih mengenal dan mencintai budaya daerah mereka,.
    Selain itu didarah saya pemerintahpun sudah memanfaatkan “Kami -duta wisata-” sebagaimana seharusnya, dengan mengadakan roadshow seni,budaya,dan pariwisata ke stakeholders pariwisata di beberapa daerah lain -seperti yg terakhir ini di solo-,. Dan saya yakin daerah lainpun ada juga yg sudah melakukan hal tersebut -walaupun mungkin tidak semua daerah/sebagian kecil-, namun kurang terekspose oleh media,. Saran saya, sebaiknya media lebih mengekspose hal2 positif tersebut, tidak hanya mengekspose hal2 negatif seputar kinerja duta wisata ataupun hal2 yg dapat menjadikan masalah/image buruk terhadap duta wisata maupun pemerintahan saja yg diharapkan dapat dijadikan bumbu pelaris produk mereka(koran/majalah/tabloid/koran online),.
    Gak ada salahnya kan kita saling mengisi dan mendukung utk menciptakan masyarakat yg tentram dan damai? 🙂
    Salam pariwisata!

  4. blogfernandes Says:

    Itu sangat tergantung dari pemerintah kota dan paguyuban dr duta wisata itu sendiri,.
    Dan setahu saya beberapa daerah(termasuk daerah saya -kota malang-) sudah memanfaatkan duta wisata sebagaimana seharusnya, dan paguyubanpun mendukung dengan membuat event2 yg menarik wisatawan, atau minimal event yg dapat mengenalkan wisata dan budaya itu sendiri ke generasi muda dan masyarakat sekitar,sehingga diharapkan masyarakat khususnya generasi muda dapat lebih mengenal dan mencintai budaya daerah mereka,.
    Selain itu didarah saya pemerintahpun sudah memanfaatkan “Kami -duta wisata-” sebagaimana seharusnya, dengan mengadakan roadshow seni,budaya,dan pariwisata ke stakeholders pariwisata di beberapa daerah lain -seperti yg terakhir ini di solo-,. Dan saya yakin daerah lainpun ada juga yg sudah melakukan hal tersebut -walaupun mungkin tidak semua daerah/sebagian kecil-, namun kurang terekspose oleh media,. Saran saya, sebaiknya media lebih mengekspose hal2 positif tersebut, tidak hanya mengekspose hal2 negatif seputar kinerja duta wisata ataupun hal2 yg dapat menjadikan masalah/image buruk terhadap duta wisata maupun pemerintahan saja yg diharapkan dapat dijadikan bumbu pelaris produk mereka(koran/majalah/tabloid/koran online),.
    Gak ada salahnya kan kita saling mengisi dan mendukung utk menciptakan masyarakat yg tentram dan damai? 🙂
    Salam pariwisata!

    Terima Kasih 🙂

  5. Muhammad Shofi'i Says:

    Sangat benar sekali pendapat pada artikel tsb. saya kurang ,elihat aksi2 dari duta wisata saat ini, kelihatannya haya event2 jalan bagi mereka saja, sungguh ironis sekali jika uang rakyat hanya digunakan seperti itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: