BERTEMU JOHN TAVARES, NASIONALISME KIAN BERTAMBAH


Oleh-Oleh Stebby Julionatan Sepulang dari Atambua, NTT

Masih ingat dengan Stebby Julionatan? Ia adalah peserta Bakti Pemuda Antar Provinsi asal Kota Probolinggo. Awal Desember lalu, Stebby baru pulang dari Atambua, NTT. Di daerah bekas konflik itulah, Stebby menjalankan misinya mengenalkan budaya Jawa Timur.

Puji Anugerah L., Probolinggo

... program BPAP membuat semangat nasioalisme saya meningkat ....

… program BPAP membuat semangat nasioalisme saya meningkat ….

Kulit Stebby semakin gelap. Maklum, ia mejadi pelancong di Atambua selama satu bulan. Stebby berbaur dengan lingkungan setempat, di bawah terik matahari yang menyengat. “Di sana (Atambua, red.) hawanya panas. Lebih panas dari Probolinggo,” katanya.

Pemuda kelahiran Probolinggo 30 Juli 1983 itu tak pernah mengira bakal diterjunkan di Atambua. Sebab, sebelumnya ia akan ditempatkan di Kepulauan Riau. Stebby baru tahu penempatannya setelah mendapat pengarahan dari panitia.

Stebby dan tujuh pemuda asal Jawa Timur lainnya bukan tambah keder. Ia justru tertantang untuk tahu lebih dalam kehidupan masyarakat setempat. Terlebih dalam rangka memperkenalkan budaya Jawa Timur pada umumnya, dan Probolinggo pada khususnya.

Semua pesarta BPAP dari berbagai provinsi di Indonesia awalnya dikumpulkan di TMII, Jakarta. Tepat di hari perayaan Sumpah Pemuda 28 Oktober itu, mereka mendapat sambuatan dari Presiden SBY. Baru sehari kemudian, semuanya diterjunkan di provinsi tujuan masing-masing.

Stebby dan tujuh pemuda lainnya berangkat ke NTT naik pesawat. Tujuh pemuda lainnya itu adalah Bondan dari Bondowoso, Ficky dari Kediri, Yayan dari Sumenep. Kemudian ada Aya dari Nganjuk, Qorib dari Tranggalek, Luluk dari Bojonegoro dan Diah dari Pasuruan.

Dua jam berlalu, mereka singgah di Bandara El Taru, Kupang. Baru setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan ke Atambua.

“Kebetulan saya ditunjuk sebagai ketua kontingen yang biasa disebut Rimata,” katanya.

Sesampai di Atambua, semua personil mencari rumah singgah. Stebby sesekali berkunjugn di di Perkampungan Adat Matabesi. Dia sendiri tinggal di rumah seorang peternak babi, Edmondus Klau dan istrinya yang seorang bidan, Magdalena Muti.

Kehidupan baru dimulai Stebby dan kawan-kawan. Ia harus berjalan kaki setiap kali menuju ke tempat tujuan. Jaraknya sangat mengagetkan. Setiap kali berjalan, minimal harus menempuh jarak enam kilometer.

Lingkungan di Atambua sangat sepi. Jarang pertokoan apalagi lalu lintas kendaraan hampir tak ada. Kalau toh ada ojek, biayanya begitu mahal. “Ongkosnya mahal. Jadi mending jalan kaki saja. Tapi betis jadi besar,” kelakarnya.

Sangat di luar perkiraan, pergaulan masyarakat setempat ternyata tak seseram yang diberitakan. Stebby menceritakan kehidupan masyarakat setempat sangat gayeng. Bahkan, ketika Stebby dan yang lain datang, mereka menyambut dengan ramah.

Salah satu pendamping tim mengatakan, Stebby dan yang lain harus pandai mengambil hati penduduk setempat. Sebab, semuanya akan terasa seperti rumah bila hati sudah didapat.

Lebih mengesankan lagi, jiwa nasionalisme penduduk setempat terasa begitu besar. Sebagai daerah bekas konflik, masyarakat Atambua sangat setia mendukung integrasi dengan Indonesia.

Tak hanya bidang politik, pemahaman nasionalisme sosial dan pendidikan juga begitu besar. Salah satu prinsip yang dipegang teguh masyarakat setempat adalah setinggi-tinggina sekolah ke Jawa, mereka akan kembali untuk membangun desa.

Di tempat itu, Stebby dan yang lain memperkenalkan budaya Jawa Timur. Mereka membuat rujak ciingur, klepon dan es dawet. Kaum pemuda Jawa Timur juga menyuguhkan tarian Padang Bulan. “Di sana sebenarnya ada yang jualan rujak cingur. Tapi kok seperti rujak manis,” kata alumni SMAN 1 Probolinggo itu dengan nada heran.

Layaknya mahasiswa KKN, Stebby dan yang lain juga bergotong-royong membangun desa. Mereka membantu pengerjaan pembangunan suangi. Itupun haurs dilalui dengan berjalan kaki beberapa kilometer terlebih dahulu.

Di tengah kesibukannya memperkenalkan budaya Jawa, Stebby mendapat kesempatan langkah sekaligus istimewa. ia bertemu dengan tokoh pro-integrasi John Tavares. John Tavares yang juga dikenal sebagai atasan Erico Gueteres.

Pertemuan di kediaman John Tavares itu berlangsung cukup singkat. Sayangnya, John Tavares menolak pertemuan itu diabadikan ke dalam kamera. “Ia (John Tavares, red.) tidak mau difoto,” kata Stebby.

Menurut Stebby, John Tavares sudah berusia lanjut, sekitar 70 tahun. Rambutnya sudah memutih. Postur tubuhnya terlihat kurus. Dalam pertemuan itu, John Tavares berpesan agar bangga sebagai bangsa Indonesia.

Karena pertemuan itu pula, rasa nasionalisme peserta BPAP kiar bertambah. Stebby mengatakan banyak manfaat setelah melalui perjalanan melelahkan itu. Salah satunya mengenal kebudayaan dan peradaban masyarakat Atambua.

Manfaat itu pula yang menjadi penghapus rasa lelah selama lebih dari sebualan dalam pengabdian. “Intinya harus lebih sabar dan bersyukur dalam menjalani hidup. Sebab, masih banyak yang kehidupannya di bawah kita,” pungkas Stebby. (*)

Sumber: Bromo Post Edisi 29 Desember 2008 – 4 Januari 2009.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: