SURAT UNTUK drg. Greg (drg. Gregorius Mau Bili F. DDPH)


Salam. Dari Stebby Julionatan di Probolinggo, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi wakil Jawa Timur kepada jemaat Allah di Atambua, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan dipanggil menjadi orang-orang yang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kita semua.

Saya senantiasa mengucap syukur kepada Allah atas kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepada kita semua dalam Kristus Yesus. Sebab di dalam Dia, kita telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan.

Bagaimana kabar Atambua akhir-akhir ini, Dok? Semoga iklim politik yang memanas pasca Pilkada 11 Desember kemarin, tidak berpengaruh terhadap situasi keamanan di sana. Semoga tetap kondusif. Semoga tetap menjadi Belu yang bersahabat, yang ramah, dan yang selalu membentangkan tangannya untuk kami semua.

Sebelumnya saya minta maaf, Dok, kalau sekiranya tulisan yang saya buat ini mungkin amat sangat terlampau lambat datang ke meja kerja Anda. Tak tersirat maksud lain selain saya butuh waktu untuk kontemplasi, untuk merenung, agar emosi saya yang carut marut dalam program BPAP 2008 di Atambua tidak turut larut dalam tulisan ini. Saya juga butuh waktu untuk mengurus kegiatan organisasi (DPC PPMI Kota Probolinggo) di mana saya adalah cikal bakalnya, mengurus kuliah saya yang belum selesai, dan kembali bergelut dengan pekerjaan saya di tour and travel. Selain itu saya juga butuh jarak agar bisa memandang segala persoalan lebih objektif. Bukankah jarak membuat kita memandang segalanya dengan sudut prospektif yang lebih luas, Dok? Ya… membiarkan jarak dan waktu menguasai masalah.

Sungguh, Dok, saya tidak ada masalah apa-apa dengan sambutan masyarakat NTT, masyarakat Belu khususnya, namun dengan sistem birokrasinya. Wow, aneh benar sistem birokrasi disana. Saya tidak bisa bilang korup, karena saya tidak punya bukti. Yang saya rasakan adalah sitem birokrasi yang kanibal, ingin menang sendiri tanpa memperdulikan bagaimana kepentingan orang lain. Percuma dong dengan adanya rapat-rapat atau musyawarah kalau pada akhirnya keputusan tetap berada di tampuk kepemimpinan Yang Mulia Bapak Rony Fernandes, SH.?! Ini tidak hanya berlaku pada permasalahan baju kontingen tapi juga jadwal-jadwal kegiatan. Percuma juga meminta maaf kalau pada akhirnya mengulangi kesalahan yang telah diperbuat. Puncaknya adalah saat kami pulang. Tak ada satu pun orang dinas Provinsi NTT yang mengantar kami padahal kami adalah tamu negara, dan yang paling fatal adalah tiket pesawat kami  tidak disertai dengan boarding pass dan airport tax. Malangnya… sungguh malang. Sepertinya ada banyak hal yang perlu dibenahi, Dok.

Lihatlah, meski sudah 6 bulan berlalu, Dok, emosi-emosi yang berkecamuk di dada tetap saja menguap ke luar kalau berbicara tentang sistem pemerintahan di sana. Hingga saya punya sebutan khusus terhadap NTT. Negeri Dongeng. Bahwa tinggal di NTT sama seperti tinggal di sebuah negeri impian. Kami tidak tahu apakah kejadian ini mimpi atau kenyataan. Semuanya penuh janji-janji tapi tidak ada pengejawantahan akan janji-janji itu. Hehehehe… Maaf, Dok, kalau saya terlalu kasar berbicara. Tapi saya sadar kalau masyarakat NTT, khususnya Atambua, tidak seperti itu. Mereka pastinya tidak mengharapkan hal itu terjadi. Ini hanya kesalahan oknum semata, yang kebetulan si oknum tersebut memang memiliki jabatan di pemerintahan dan memegang kendali pada saat program ini dilaksanakan.

Dok, meski Anda bukanlah seorang Wakil Bupati Atambua lagi, saya mewakili masyarakat Jawa Timur, mewakili teman-teman BPAP 2008 (Sulawesi Barat dan Kepulauan Riau) dengan propinsi tujuan NTT, mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Anda dan seluruh masyarakat Atambua, khususnya orang tua homestay kami yang selama pelaksanaan BPAP 2008 telah mengurus kami dan menganggap kami sebagai anak-anak mereka sendiri. Jujur, secara pribadi saya terharu ketika Oma -Oma Lena, orang tua homestay saya- menangis saat mengantar kepergian kami, Shuaib dan saya. Mengalungkan tenun ikat kepada kami dan berkata bahwa ini adalah perlambang persaudaraan yang abadi.

Selain ucapan terima kasih, saya juga ingin mengungkapkan kekaguman saya kepada Anda. Anda sudah menerima kami, para pemuda, dalam suasana yang santai dan penuh kekeluargaan. Well, sangat jarang pembesar negeri ini yang bersikap seperti, Anda. Tak hanya itu, dari Oma, saya mengetahui bagaimana sepak terjang Anda selama menjadi pemuda. Track record Anda yang mengagumkan itu. Oma bercerita bahwa Anda berhenti dari menjadi pegawai negeri –dari dokter, bahkan Kepala Rumah Sakit di RSU Atambua, yang pastinya menurut pandangan masyarakat awam adalah pekerjaan yang prestisius-  hanya untuk LSM dan mengurusi masalah pendidikan anak-anak dan tindakan kekerasan pada wanita. Hal itulah yang membuat saya sangat mengagumi Anda.

“Seragam adalah baju luarnya saja. Tapi lihatlah potensi yang ada di balik baju itu.”

Saya harap saya juga bisa mengikuti jejak Anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: