HOW TO DELIVER YOUR POWER


by Stebby Julionatan

Meraih kesuksesan adalah impian setiap orang. Beberapa orang harus banting tulang, bekerja ekstra keras, untuk meraih impian mereka. Namun, beberapa orang beruntung, mereka meraih kesuksesan secara instant dari orang tua mereka. Yang mereka perlu lakukan hanyalah belajar kemampuan untuk mempertahankan dan mengembangkan aset orang tua mereka…

Untuk itulah saya menulis artikel singkat ini.

Tulisan ini berguna bagi orang tua yang punya usaha, orang tua yang punya kerajaan bisnisnya dan ingin menyerahkan tahta kerajaan bisnis tersebut kepada sang putra mahkota.

Tulisan ini tidak bertujuan untuk menggurui, tulisan ini juga tidak bermaksud untuk mengkritisi suatu persoalan, tulisan ini hanyalah sharing pengalaman saya selama bekerja di PT. Gilang Wisata Perkasa T&T yang di suatu kondisi, bos saya, Ibu Mien (Dra Miendwiyati, MBA.) mempersiapkan puteranya, Gilang Widya Pramana, untuk menduduki tampuk kepemimpinan. Dan di kesempatan itulah saya mengamati, mencatat, mengevaluasi dan belajar langsung tentang kepemimpinan. Tentang bagaimana bos saya itu menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan untuk dirinya dan dihantarkan kepada putranya itu. Intinya, dari bos saya itu, saya menjadi lebih yakin -bukan berarti sebelumnya tidak yakin- bahwa kepemimpinan itu bisa dilatih. Memang… harus diakui, ada orang-orang yang dilahirkan dengan aura emas kepemimpinan, namun tak sedikit pula orang yang berhasil memimpin sebuah perusahaan besar dengan banyak karyawan dari proses belajar. Dari bos saya itu, yang memang kebetulan wanita, saya belajar bahwa jiwa kepemimpinan tidaklah bias gender. Kepemimpinan bukanlah hak milik laki-laki semata. Wanita juga bisa memimpin. Sekali lagi, hal ini bukan berarti sebelumnya saya tidak yakin, melainkan membuat saya lebih yakin karena proses tersebut terjadi dalam lingkungan saya sendiri.

Tulisan ini adalah cara saya untuk berbagi pelajaran yang telah saya terima dari bos saya itu. Sebab, siapa yang tahu kalau Anda adalah orang tua yang juga sedang mengalami masalah yang sama dengan yang dialami bos saya, tentang bagaimana mempersiapkan sang putra mahkota menyandang tampuk kepemimpinan.

my boss first steps.

MULAI DARI MARKETING. Kenalkanlah dia produk dan berilah dia target. Ingatkan kepada sang putra mahkota bahwa marketing adalah “ujung tombak” perusahaan. Marketing lho ya, bukan sales!! Sebelum saya lanjutkan, ijinkan saya untuk membahas terlebih dahulu tentang 2 pekerjaan ini. Ada inti persamaan yang mendasar kedua pekerjaan ini. Sama-sama memasarkan, sama-sama menjual. Tapi mereka berbeda. Kalau sales hanya menjual dan memikirkan produk tersebut laku di pasaran, tetapi marketing, di samping menjual dia harus mampu mem-branding image (menjaga citra) perusahaan yang dia wakili.

Kenapa harus demikian? Kenapa sang putra mahkota harus memulainya dari marketing yang notabene adalah aktiviats outdoor -bergelut dengan debu dan panas matahari- yang melelahkan? Sebab dengan petualangan sang putra mahkota dunia marketing, sang putra mahkota akan belajar langsung di lapangan. Dia akan lebih mengenal medan, tahu konsumen, tahu target penjualan, tahu pasar dan berapa persen jumlah konsumen yang bakal perusahaan Anda dapatkan dari pasar itu. Pengetahuan dasar ini penting bagi sang putra mahkota untuk menentukan kebijakan di perusahaan Anda nantinya. Sehingga dari pengalamannya itu, paling tidak dia tahu cara perhitungan menetapkan target bagi karyawannya; mengerti akar rumput permasalahan karyawan di level paling bawah sekalipun (dan mudah-mudahan dia mampu mengatasinya dengan baik); dan yang terpenting adalah dekat, secara emosional, dengan orang-orang- atau dalam hal ini konsumen- yang mau membeli barang atau jasa yang perusahaan Anda miliki.

my boss second steps.

KENALKANLAH DIA DENGAN RELASI-RELASI ANDA. Selain dia, sang putra mahkota Anda, mendapatkan relasi dari proses trainingnya sebagai marketing, Anda juga harus memperkenalkan relasi-relasi kelas atas Anda kepadanya. Ajak dia dalam meeting, dalam project presentation, dalam undangan-undangan dimana Anda dan sang putra mahkota terlibat dengan orang-orang penting. Dan selalu perkenalkan dia sebagai putra mahkota Anda yang akan Anda tunjuk untuk mengganti Anda dalam percaturan bisnis di kerajaan Anda. Sebab dari sini dia akan belajar bahwa pada dasarnya, inti dari kekuatan bisnis terletak pada besar kecilnya jaringan yang dimiliki oleh pemilik bisnis tersebut.

NB: Di akhir acara kunjungan-kunjungan tersebut, jangan lupa memberi tugas kepada sang putra mahkota untuk memperluas dan memperkuat jaringannya. Tentunya hal tersebut bakal berdampak pada semakin luas dan kuatnya jaringan bisnis Anda.

my boss third steps.

BERIKAN KEPERCAYAAN KEPADANYA. Berikan kepercayaan dan keleluasaan kepada sang putra mahkota untuk mengambil keputusan. Mulailah dari hal-hal kecil atau proyek-proyek yang terkecil dahulu. Biarkan dia membentuk timnya sendiri. Kalau dia berhasil, tambahkan lagi dosisnya. Buat dia merasakan ekstase dalam pekerjaannya. Intinya, tidak ada hal yang lebih tidak masuk akal selain cinta. Bila dia, sang putra mahkota Anda, sudah jatuh cinta dengan pekerjaannya, dengan perusahaan Anda, segalanya (termasuk kesuksesan perusahaan) pasti sangat mungkin terjadi dalam masa kepemimpinannya.

my boss fourth steps.

KENALKAN PADA VISI DAN MISI PERUSAHAAN. Tentunya Anda tidak sekedar membangun perusahaan Anda bukan?! Perusahaan Anda pasti dibangun dengan sebuah visi dan misi. Sebab, sepanjang yang saya ketahui, visi dan misi bagi perusahaan tak ubahnya seperti tonggak bagi bangunan, menopang tinggi kubah kesuksesan perusahaan. Visi dan misi juga tak ubahnya seperti seberkas cahaya yang jadi panduan ketika sebuah perusahaan berada dalam kegelapan. Visi dan misi pun hadir seperti siraman hujan ketika perusahaan mengalami kekeringan identitas. Maka dari itu, mengingat pentingnya visi dan misi bagi suatu perusahaan, Anda wajib menyuntikkan visi dan misi tersebut ke dalam tubuh sang putra mahkota agar visi dan misi perusahaan mengalir dan menjadi satu dengan aliran darahnya. Menjadi kesehariannya dalam bekerja dan mengambil ke putusan di perusahaan Anda kelak. Sehingga, begitu Anda memutuskan untuk pensiun dan menyerahkan seutuhnya perusahaan Anda kepada sang putra mahkota, Anda tak perlu khawatir lagi bahwa gerak roda perusahaan Anda bakal melenceng dari tujuan Anda.

NB: Dari banyak buku motivasi dan buku bisnis yang saya baca: dari How to Win Friends and Influence People; Rich Dad, Poor Dad; 7 Habits of Highly Effective Person, Who Moves My Cheese, Dare to Fail, sampai yang terbaru adalah The Secret karangan Rhonda Byrne, saya menemukan tiga hal mendasar yang menjadi persamaan dari buku-buku tersebut. Menurut saya, intinya, kalau manusia hidup, dia hanya perlu 3 hal, yaitu: tujuan, peta dan bekal untuk mencapai tujuan tersebut. Temukan dan persiapkan ketiganya, niscaya Anda akan selalu sukses dalam kehidupan.

My boss fifth steps.

HORMATI UANG. Ini pentingya manajemen, terutama manajemen keuangan. Jangan mentang-mentang karena ia adalah sang putra mahkota, ia punya hak untuk menggunakan uang perusahaan secara semena-mena. Anda harus mendidiknya untuk bijak dalam membelanjakan uang perusahaan. Dalam bekerja, ia harus diperlakukan sama seperti karyawan. Ia harus juga digaji sebagaimana Anda menggaji karyawan-karyawan Anda pada umumnya. Sebagai tambahan, latih dia sebagaimana Robert T. Kiyosaki dilatih oleh ayahnya yang kaya. Berinvestasi. Pelajari bagaimana cara uang bekerja untuknya, dan bukan dirinya yang bekerja untuk uang.

My boss sixth steps.

MENCINTAI BAWAHAN. Ajarkan kepada sang putra mahkota bahwa bawahan bukanlah budak-budak yang dapat dia suruh sesuka hatinya. Mereka juga punya otak, hati dan perasaan. Oleh karena itu, dekatkan putra mahkota Anda dengan mereka sebagaimana Anda mengajarkan kepadanya untuk dekat dengan relasi-relasi Anda. Hal yang perlu diingat adalah, menjadi seorang pemimpin bukanlah menjadi seseorang yang ditakuti oleh bawahannya, tetapi menjadi seseseorang yang dihormati dan dicintai oleh bawahannya. Ini termasuk mengajarkannya untuk memimpin secara flexible dan berani dalam mengambil resiko.

My boss sixth steps.

JANGAN PERNAH MALU MENJADI PELAYAN. Tanamkan hal itu di otak sang putra mahkota. Kalau dia menolak, ajaklah dia sama-sama merenung. Suruhlah dia menyebutkan satu saja pekerjaan yang bukan pelayan atau tidak melayani orang lain? “Dokter.” Mungkin jawabnya bisa demikian, tapi dokter juga pelayan, dia melayani pasiennya. “Presiden.” Dia melayani masyarakat. “Artis.” Sama, seorang artis juga melayani kepuasan masyarakat terhadap hiburan. “Pendeta. Kyai. Nabi.” Mereka juga pelayan. Intinya, tak ada satupun pekerjaan di dunia ini yang bukan pekerjaan melayani atau men-service orang lain. Jadi kenapa malu untuk menjadi pelayan?!

Lagipula, inti keberhasilan sebuah bisnis dalam memenangkan pasar terletak dari seberapa baik pelayanan yang diberikan oleh perusahaan Anda kepada konsumen.

NB: Pembeli yang baik tidaklah melihat harga dari barang/jasa yang dia beli, tetapi “nilai” yang dia terima dari barang/jasa tesebut.

Tujuh langkah. Demikianlah pelajaran berharga yang saya dapatkan dari bos saya itu. Semoga berguna dan selamat mempraktekkannya. (tby/2009)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: