KUALITAS SEBAGAI UJUNG TOMBAK


…tulisan berikut, adalah tulisan Mimom-ku yang sudah dimuat di Journal Pendidikan, karena menurutku bagus (dan emang bagus kok) untuk mengkritisi dunia pendidikan serta para pendidiknya yang hanya berlomba-lomba mengejar status “sertifikasi” tanpa adanya peningkatan kualitas mereka di lapangan


Oleh:  Grace Stanny Kippuw*)

Dengan pencanangan “Guru sebagai Profesi” pada peringatan Hari Guru Nasional XII tahun 2004, diharapkan memberi dampak pada kesadaran guru tentang profesinya, baik status, peran, fungsi, kualifikasi, kompetensi, dan karakteristik yang harus dimiliki seorang guru yang professional. (Buku Guru sebagai Profesi oleh Drs. Suparlan, M.Ed.)

Nukilan tersebut selalu menjadi renungan dalam setiap langkah saya dalam melaksanakan tugas sebagai seorang guru. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), profesi berarti bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian ( keterampilan, kejuruan dsb.) tertentu.

Seorang guru yang professional adalah yang memiliki status guru yang menurut Digumarti Bhaskara Rao dalam bukunya berjudul “Teacher in a Changing World”, dibedakan tiga hal yaitu (1) personal status, (2) professional status, dan (3) sosial status. Ketiga status guru tersebut memiliki implikasi terhadap tugas dan tanggung jawab guru yang harus dipenuhi seorang guru professional dalam memenuhi kebutuhannya.

  1. Personal status:
    1. Self esteem, memiliki harga diri sebagai guru
    2. Vision artinya visi, memiliki pandangan, wawasan, dan atau cita-cita tentang masa depan.
    3. Commitment, memiliki kepedulian dan kemauan yang keras untuk melaksanakan tugasnya sebagai guru.
    4. Conviction, memiliki keyakinan diri untuk dapat meleksanakan tugasnya dengan baik.
    5. Aspiration, memiliki keinginan diri tentang sesuatu yang dicita-citakan dalam melaksanakan tugasnya.

  1. Profesional status:
    1. Responsibility, memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi untuk melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya.
    2. Autonomy, memiliki kemandirian untuk melaksanakan tugasnya.
    3. Competence, memiliki kompetensi dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan standar yang telah ditentukan.
    4. Knowledge, memiliki pengetahuan yang luas dan keahlian untuk mengemban tugasnya.
    5. Teacher Reserch, dapat merancang dan melaksanakan penelitian tentang pelaksanaan tugasnya sebagai guru.
    6. Publications, dapat menyampaikan laporan atau menerbitkan tulisnan tentang pelaksanaan tugasnya kepada public.
    7. Professional organization, secara aktif dapat mengikuti kegiatan organisasi pembinaan professionalisme guru.
    8. Participative management, dapat berperanserta aktif dalam kegiatan yang terkait dengan pendidikan dan guru.

  1. Sosial status:

Material

    1. Salary, memiliki gaji yang sesuai dengan beban tugasnya.
    2. Minimum working standards, memperoleh standar kerja yang layak selaras dengan statusnya.
    3. Welfare and fringe benefits, memperoleh kesejahteraan yang memadai dan insentif tambahan yang wajar sesuai tanggung jawabnya sebagai guru.

Non-materials

a. Respect, memperoleh penghargaan dari masyarakat.

b. Community standing, memperoleh pengakuan masyarakat.

c. Partnership, memperoleh dan dapat melaksanakan kerja sama dengan kemitraandengan stakeholder pendidikan, khususnya orang tua dan masyarakat.

d. Trust, memperoleh kepercayaan dari masyarakat.

e. Leadership, dipandang sebagai panutan bagi masyarakat.

Berangkat dari personal status, seorang guru dapat menunjukkan kinerjanya dalam membimbing siswa berprestasi. Hal ini terbukti, melalui kegiatan lomba karya tulis yang pertama kali diadakan oleh Kantor Perpustakaan dan Arsip Kota Probolinggo, yang dilaksanakan dalam bulan Maret 2008 dan berakhir tanggal 30 April 2008, berdasarkan surat edaran dari Kantor Dinas Pendidikan Kota Probolinggo, tertanggal 12 Mei 2008, yang menyatakan bahwa lomba karya tulis dengan tema “Perpustakaan” tersebut dimenangkan oleh SMP Negeri 4 atas nama Ika Wulandari, siswa kelas VII C, dengan judul “Perpustakaan vs Alun-alun,” dengan jumlah nilai 270. Luar biasa! Saya bangga sebagai guru pembimbing. Suatu hal yang tidak pernah kuduga bahwa dari pekerjaan saya selama ini, telah membuahkan hasil yang benar-benar membelalakkan mata setiap orang yang mendengarnya. Telah terukir dalam sejarah Kota Probolinggo, bahwa dalam tahun inilah tahun pertama Pemerintah Kota Probolinggo melalui Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Probolinggo, mengadakan lomba bergengsi, yaitu lomba karya tulis ilmiah dengan membagikan hadiah sebesar satu juta lima ratus ribu rupiah kepada pemenang pertama.

Saya tidak tahu juga, keberhasilan ini apakah suatu hasil dari proses pembelajaran yang mana guru telah membawa siswa benar-benar belajar pada kondisi nyata secara enjoy, ataukah guru telah banyak memberikan bantuan dalam hal menemukan literature sebagai acuan tulisan siswa sesuai dengan kebutuhan karya tulisnya, ataukah keduanya? Yang menjadi pertanyaan saya saat ini,” Sudahkah saya memasuki kerangka professional dan sosial status seperti tersebut di atas?

Dengan aspiration yang selama ini selalu membelenggu diri saya, ada suatu cita-cita atau keinginan yang tulus pada diri saya untuk membuktikan bahwa apa yang dikatakan Andreas Harefa tentang, “Mereka yang sukses adalah mereka yang pantang menyerah dan mendemonstrasikan ketekunan bekerjanya yang luar biasa. Gelar akademis mereka pada dasarnya tidak memberikan jaminan apa-apa sepanjang tidak ada kemauan kreatifinovatif dan pengetahuan yang di-update setiap hari” adalah benar. Nukilan tersebut membakar diri saya untuk melakukan pekerjaan tanpa mengenal batas waktu dan tanpa memperhitungkan kontribusi apa yang diberikan sekolah pada diri saya yang mau membimbing sebanyak 22 orang siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler KIR yang dilakukan setiap hari, dimulai pukul 13.00 sampai dengan pukul 17.00, selama sejak pemberitahuan lomba berlangsung sampai batas akhir pengumpulan karya tulis ilmiah, walaupun terkadang saya harus mengeluarkan kocek sendiri untuk memberi konsumsi pada siswa pelatihan tersebut, di samping kegiatan-kegiatan lain yang menyangkut pembinaan siswa dalam memajukan potensi yang ada dalam diri anak didik saya.

Namun dibalik ini semua, ada fenomena yang terkadang membuat perasaan saya ciut. Saya tertekan jika mendengar kata “Sertifikasi Guru” yang mana kata sertifikasi guru bisa diartikan selain meningkatkan kwalifikasi kerja guru juga bisa diartikan upaya meningkatkan kesejahteraan gutu.

Guru mana yang tidak tertarik mengikuti sertifikasi itu, jika pemerintah telah mengiming-imingkan adanya tunjangan profesi yang besarnya satu kali gaji bagi guru yang dinyatakan telah lulus uji sertifikasi.

Keinginan untuk mengikuti uji sertifikasi sangatlah besar karena guru bukanlah golongan masyarakat kaya atau masyarakat yang ekonominya tinggi. Tentu saja, keinginan untuk mengikuti uji sertifikasi itu ada. Namun sudah pantaskah saya? Rasanya tidak mungkin. Setiap kali daftar nominasi itu sampai di sekolah saya, nama saya tidak pernah ada dalam daftar itu, karena saya tidak memiliki prasyarat utama ( S1 ) sesuai komitmen pemerintah terhadap penjaminan mutu pendidikan yang ditandai dengan lahirnya UU No 20 Th 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU No 14 Th 2005 tentang UU Guru dan Dosen, dan PPNo 19 Th 2005 tenteng Standar Nasional Pendidikan. Bukan berarti saya tidak pernah kuliah, saya tidak dapat menyelesaikan kwalifikasi akademik saya, karena kemacetan ini bermuara pada keadaan ekonomi yang sangat terbatas. Kembali lagi kalau boleh saya bertanya, “Apa manfaat sertifikat dari pelatihan-pelatihan, seperti: Workshop Perpustakaan, Pelatihan Model Pembelajaran, MGMP, Penataran Perpustakaan, Uji Kompetensi Bahasa Indonesia (UKBI), dll yang sudah pernah saya ikuti selama 27 tahun pengabdian saya sebagai seorang guru?”

Memang benar, terhitung mulai bulan Oktober 2007, para guru yang lulus program sertifikasi akan memperoleh tunjangan profesi yang besarnya satu kali gaji. Hal itu dapat diperoleh apabila sang guru dapat memenuhi prasyarat utama (S1 atau D4) dan prasyarat tambahan berupa fortofolio yang merupakan rekaman kegiatan selama mengajar. Tapi apa yang terjadi di lapangan? Benarkah Pemerintah Daerah bersungguh-sungguh dalam menyeleksi mana guru yang layak dan tidak layak untuk diluluskan sesuai tujuan sertifikasi? Benarkah Pemerintah Daerah tidak hanya memandang sang guru memiliki persyaratan utama yaitu memiliki ijazah akademik atau kwalifikasi akademik minimal S-1 atau D-4. sedangkan persyaratan yang lain, seperti: (1) masa kerja, (2) usia, (3) pangkat / golongan bagi PNS, (4) beban mengajar, (5) jabatan/ tugas tambahan, dan (6) prestasi kerja, menjadi nomor kesekian? Karena pada kenyataannya, para guru yang termasuk dalam daftar nominasi uji sertifikasi, ketika harus melengkapi fortofolio sebagai rekaman kegiatan selama mengajar, mereka harus kelabakan, keponthal-ponthal “mencari” berkas yang berkaitan dengan proses belajar mengajar yang seharusnya hal itu merupakan kompensasi tolak ukur utama dalam mengukur kompetensi guru sesuai dengan kwalifikasi S1 atau D4 yang dimiliki sang guru.

Saya setuju dengan tulisan Sholehuddin, wartawan Jawa Pos tertanggal Senin, 17 Desember 2007 berjudul “Guruku, Gurumu, Juga Guru Kita.” Beliau mengatakan, ketika uji sertifikasi guru digulirkan oleh pemerintah, tuntutan kwalitas pembelajaran berlari cepat, sementara kwalitas guru mberangkang, hal ini adalah sebuah keprihatinan yang sudah terpola demikian lama. Para guru bingung!

Menurut hemat saya, untuk menutupi kekurangan-kekurangan akan persyaratan penunjang yang harus dimiliki seorang guru dalam melengkapi fortofolio untuk mengikuti uji sertifikasi, Pemerintah Daerah sebenarnya telah berupaya menjembatani dengan menjamurnya berbagai seminar yang diadakan di kota, yang tentunya dengan harapan agar para guru yang dulunya tidak memiliki sertifikat tambahan dapat mengikuti kegiatan tersebut agar dapat memilikinya sebagai bekal dalam melengkapi fortofolionya. Hal ini terkesan instant. Adakah manfaat dari seminar itu? Yang lebih memprihatinkan lagi, ketika guru telah dinyatakan lulus uji sertifikasi, adakah benar-benar ada suatu perubahan yang signifikan dalam menjalankan tugasnya sebagai guru professional?

Saya benar-benar menyambut gembira atas prakarsa Dinas Pendidikan Kota Probolinggo yang akan melaunchingkan sebuah majalah/ bulletin pendidikan, karena menurut saya, inilah ajang yang tepat untuk mengukur kompetensi guru maupun anak didik melalui tulisan.

Memang, pekerjaan menulis bukan pekerjaan mudah, seperti semudah kita membalikkan tangan, perlu proses dan ketekunan bekerja. Dan tidak sedikit para guru yang enggan asyik bergelut dalam hal tulis-menulis yang sebenarnya hal ini merupakan karakteristik professional status seorang guru professional.

Marilah kita satukan pemahaman sudut pandang kita bahwa guru adalah ujung tombak pendidikan berkwalitas, semoga !!!

*) Penulis adalah Guru SMP Negeri 4 Probolinggo untuk bidang studi Bahasa Indonesia yang mempunyai motto: hidup untuk memperoleh suatu pembelajaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: