me-MAYA


Location: Rumah Tacin, KUPANG – NTT.
Time : Pagi-pagi buta sebelum sarapan n mandi pagi.

Suasana di ruangan ini masih sepi. Cuma bunyi krek-krek modem yang bersaing dengan dengung PC. Ini yang dikatakan kawan-kawan tentang “KEMBALI KE PERADABAN”. Aku kembali me-MAYA. Memasuki dunia maya. Kembali menghentakkan jari-jariku di atas tuts komputer. Kembali menyapa kalian semua lewat tulisan yang tak berujung pangkal di blog ini.

Here I’m friend… Whad up?

Hehehe… maaf kalo kali ini aku pergi ga bilang-bilang. Bukannya takut dimintain oleh-oleh setelah kembali ke kampung halaman tercinta, tapi karena kali ini aku pergi bukan untuk rekreasi dan bersenang-senang, aku pergi untuk ikutan bakti pemuda. Total selama 2 bulan aku ikut program Jambore Pemuda Indonesia (JPI) dan Bhakti Pemuda Antar Propinsi (BPAP) 2008 dengan propinsi tujuan Nusa Tenggara Timur, mulai tanggal 16 Oktober dan berakhir nanti tanggal 20 Desember 2008. Tapi kalau kepulangan ke Jatim sih, tinggal 2 hari lagi. Yap, tanggal 10 Desember nanti, kami akan meninggalkan “negeri dongeng” ini.

Kenapa aku bilang NTT ini negeri dongeng, ya karena aku ngerasa ga nyata aja tinggal di sini. Gara-gara panitia setempat suka banget berkata manis, suka banget mengumbar janji-janji tapi tak satupun yang ditepati, suka banget minta maaf tapi belum lewat sejam dah buat kesalahan lagi, mirip banget dengan deretan caleg-caleg Jatim yang foto-fotonya tercecer di jalan. Really, those condition change us. Mereka dan program ini telah mengubah kami hingga kami tak mengenali diri kami sendiri. Aku jadi ngerasa tinggal di The Matrix. This is me? This is real me? Tanyaku pada diri sendiri.

Program ini berawal dari masa-masa pembekalan selama 7 hari di Surabaya, lalu berangkat ke Jakarta untuk JPI, tempat bertemunya pemuda seluruh Indonesia, kemudian terbang sejauh 2 jengkal pada peta berskala 1:48.000.000 ke Kupang pada tanggal 29 Oktober, tepat sehari setelah Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda plus upacara pelepasan ke propinsi tujuan.

Di NTT, aku ditempatkan di Atambua, ibukota Kabupaten Belu, daerah perbatasan antara Indonesia dengan Timor Leste itu, atau sekitar 9 jam perjalanan darat ke arah timur laut melewati lembah dan bukit yang berkelok-kelok. Dan praktis, kalau kalian tanya kenapa aku baru mulai menulis sekarang, setelah sampai di Kupang, itu karena di Atambua tidak ada yang namanya internet. Well, jangankan internet, PC aja bisa diitung dengan jemari tangan. Untung saja aku bawa komputer lempèt (baca: laptop) sendiri, sehingga pas pembuatan Laporan Kegiatan BPAP aku tak perlu susah-susah mencari rental komputer atau antri sampe malem dengan peserta lainnya untuk pinjem komputer milik Kak Agnes.

Selama tinggal di Atambua, aku dititipkan di rumah penduduk. Homestay istilahnya. Rumah Oma Lena, yang beralamat di Ds. Tetakiren, Kelurahan Berdao-lah yang dipilih sebagai homestayku. Beliaulah orang tua asuhku. Nama lengkapnya Magdalena Muti. Istri dari Edmundus Klau (aku panggil beliau Opa Edmund) ini seorang pensiunan bidan yang sekarang membuka praktek sendiri di rumahnya. Mmm… kalau Opa Edmund bekerja sebagai peternak babi. Maka tak heranlah jumlah babi sebagai hewan peliharaan di rumah kami, buanyaaaak sekalee.

Di rumah Oma Lena, aku tak tinggal sendiri. Aku tinggal bersama Suaib (yang pada kelanjutan cerita nanti, aku panggil dengan ToMandar). Seorang peserta BPAP asal Sulawesi Barat. He’s still 18 years old. Terus terang aku bangga punya roommate seperti dia. Gimana ga bangga??!! Seumuran dia tuh, aku belum pernah buat prestasi apa-apa apalagi sampe yang menasional macam gene. Hehehe…

Sekedar cerita, ketika pertama kali aku tahu bahwa aku dikirim ke NTT, aku merasa sebel. Jujur, asli, aku pengennya sih dikirim ke Kepulauan Riau, lha kok…? “Haduh lha kok aku yang dikirim ke sana?” Pasti daerahnya primitif, ga ada air, ga ada pembangunan, apalagi kehidupan, orang-orangnya sangar, suka mabok, jelek-jelek kayak monyet, ga ada cewek yang cantik yang bisa dibuat gebetan, bayak kerusuhan, peluru berdesingan bak ritik hujan, dan lain-lain, dan pemikiran lain-lain yang negatif arahnya. Tapi begitu sampai di tempatnya, ternyata Atambua ga jelek-jelek amat kok. Ada hotel bintang 4 macam Royal King Hotel, ada rumah makan, distro, pertokoan bahkan trafic light. Rumah-rumah penduduknya pun tidak sejelek yang aku bayangkan sebelumnya (meski tak sedikit pula yang sesuai bayanganku), ada aliran listrik yang meski 3 hari sekali harus pemadaman bergilir, situasinya kondusif (selama aku tinggal di sana, cuma 2 kali bentrokan, bentrokran yang terjadi ya ulah aparat keparat, TNI dan Polri yang ga ada kerjaan, mabok dan rebutan purel mereka), dan… yang paling penting warganya, penduduk Atambua, they’re very welcome on us. Sama seperti nama kecamatannya… Belu yang dalam bahasa setempat, bahasa Tetun, berarti sahabat. Two tumbs up!!! Penduduk Belu, Penduduk Atambua adalah orang-orang yang bersahabat.

Ada banyak hal yang patut disyukuri… meski sampai saat ini aku belum tahu apa maksud dan rencanaNya mengirimku ke tempat ini, meski di awal paragraf aku bilang bahwa program ini telah mengubah diri kami, para peserta BPAP, khususnya diriku, hingga semakin tidak mengenali siapa diriku yang sebenarnya, meski sampai saat ini, saat sobat-sobatku tengah tertidur lelap di tempat kak Tina untuk merayakan hari raya Idul Adha, aku tengah terduduk diam di sini, merenung…. Ya, aku bersyukur karena aku lolos seleksi BPAP tingkat Jatim dan diberi kesempatan untuk bertandang ke Atambua, mengenali penduduknya, mengenali budayanya. Aku bersyukur karena aku lahir di Jawa, Jawa Timur tepatnya, sebuah pulau yang kaya dan subur, sebuah propinsi yang maju, sebuah daerah yang merata pembangunannya, baik kota maupun desa. Aku bersyukur karena aku lahir Indonesia, negara yang kaya, kaya dalam arti sebenarnya, kaya pula akan budayanya. Sumpah… sampai detik ini, air mataku masih tumpah kalau aku mengingat Atambua, keluargaku, sahabat-sahabatku. Aku mencintai Atambua. Aku mencintai kesederhanaannya, aku mencintai semangatnya, aku mencintai kota karang itu.

Advertisements

7 Responses to “me-MAYA”

  1. welkambek kalo gitu.

    manusia memang hidup di banyak dunia :
    dunia nyata
    dunia maya
    dunia khayal
    dunia malam
    dunia lain
    dunia dalam berita
    dunia anak
    dan dunia dunia lainnya..

  2. hi maya, u anak jatim toh? kenalan yach Q mar dari Kepri yang juga pernah ikut BPAP, 2007 aku sebagai peserta di kenakan di jateng, N 2008 ku jadi pendamping dari kepri, kalo Q boleh nanya pendapat kamu tentang peserta kepri sendiri yang ke NTT gimana? jwb ke email Q yach,ditunggu jawabannya.thank’s sobat
    wassalam…

  3. sudah saatnya pemuda Indonesia bangkit!!!

  4. hi maya… hi maya…. NAMAKU LHO BUKAN MAYA.

    Jawabannya mau yang jujur ato nggak? Yang jujur, kalau tanya pendapat aku tentang anak kepri, rata2 mereka malas2. well, bisa dimaklumi sih, karena mereka anak2 orang kaya semua. hehehe.

  5. Seteby……
    lam kenal ya…
    aq eru, purna taon 2007 dari Kepri juga. Kemaren ditempatin di Ternate, Malut. Emang kalo daerah Timur sambutannya luar biasa, bikin kita serasa dirumah sendiri. Tapi yang pasti kegiatan kek gini emang bikin qt jadi ruarrr biasa.

  6. Salut dan malu, anda dari daerah lain di Indonesia sengat menganggumi kampung halaman saya, sementara saya sendiri seakan tak “mempedulikan” my home town. Indonesia membutuhkan orang seperti anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: