DIJAJAH


Maraknya makanan-makanan kemasan yang mengandung melamin, membuat Mama berkomentar bahwa kita -bangsa Indonesia, dijajah. “Penjajahan kan nggak harus konfrontasi fisik. Ini juga merupakan penjajahan.” Katanya pada aku dan Seba yang sedang menyaksikan berita di televisi tentang makanan bermelamin yang sedang disita oleh BP POM yang hanya kami jawab dengan kepala manggut-manggut.

Sejujurnya bukan kali ini saja kita dijajah. Sejak dulu kita dijajah. Mental kita dijajah.

Aku pernah membaca salah satu tulisan seseorang seniorku di BPAP Jatim yang isinya tentang semangat berkreativitas, semangat berwirausaha bagi generasi muda. Tapi apa jawabannya ketika aku bertanya kepadanya, “Kerja dimana, Mas?” Sebagai jawabannya, dia malah menyebut sebuah perusahaan penyiaran swasta yang cukup bonafit. Ini membuktikan apa? Ini membuktikan bahwa sejak dulu (sejak jaman kolonial) mental kita memang sudah dijajah. Sejak dulu kita sudah bermental tempe, bermental follower, bermental kuli.

Banyak orang merasa bangga bahwa dia bekerja di perusahaan ini atau bekerja di dinas ini. Atau mereka juga menjadi iri jika teman atau kerabat mereka diterima di perusahaan yang bonafit. TApi mereka tidak menjadi bangga ketika mereka merintis usaha sendiri dari bawah. Mereka hanya memandang sebelah mata kalau melihat kawan atau kerabat mereka memulai usaha -berwirausaha, dari nol. Yang ada hanya cercaan. Yang ada hanya hinaan.

Aku tahu, dan aku bisa berbicara seperti ini karena aku mengalaminya. Dan… aku tidak kuat. Aku pilih aman. Aku pilih berenang di kolam para pencari kerja. Ayahku sendiri yang mengatakannya: “Untuk apa kamu neko-neko? Untuk apa kamu susah-susah?” Baginya, berseragam, bermental tempe dan menjadi kuli adalah sebuah kenyamanan dan kebanggaan.

Bagaimana dengan kamu? Masih merasa tidak dijajah??!!!

Advertisements

7 Responses to “DIJAJAH”

  1. mungkin jika seperti itu hidup akan menjadi lebih mudah, tak perlu lagi bersusah payah, tapi kalau seperti itu mungkin saja nantinya tak akan ada tantangan ataupun sesuatu yang dapat membuat kita berkreasi, karena kita hanya mengikuti saja.
    walau pun jika dari nol mungkin saja akan mendapatkan banyak rintangan dan cercaan, tapi dengan kita bisa saja menjadi pribadi yang kuat karena sudah mengalami banyak cobaan.
    bukannya ada pepatah yang mengatakan : bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian

  2. aku ikuti kali ini saran ayahmu, mencari kenyamanan yang aman.hehehe…….selamat malam dan salam hangat selalu

  3. hmm, kalau menurut saya, tidak usah hiraukan orang-orang yang kamu sebut “mental dijajah” itu, karena mereka adalah tipikal orang2 yang sudah terlau berada di wilayah aman dan tidak mau bergerak dari sana untuk mencari tantangan. Mengubah orang lain tidak gampang atau bahkan mustahil, kalau kita terlalu berusaha lalu gagal, nantinya frustasi, ini kurang sehat, jadi menurut saya, lebih baik “rubah sendiri sebelum merubah orang lain apalagi negara”.

    Andaikan memang terlalu banyak orang yang mental tempe, maka ingat2 saja agar tidak jatuh dalam mental seperti itu, jika kita bisa merubah diri sendiri, tidak mustahil kalau suatu saat kita mengubah orang lain dengan keyakinan yang kita miliki. Kalau mereka tidak sanggup, ya sudah tinggalkan saja. Bukankah mereka yang memutuskan untuk hidup dengan pikiran itu? Jika mereka bahagia dengan mental tempe itu dan tidak signifikan, menurut saya itu tidak terlalu bermasalah, karena kita bisa memetik pelajaran dari mereka.

  4. Zool Ehsan Says:

    Suasana kerja dan lingkungan profesi di negara kita lebih didominasi oleh hawa-hawa kenyamanan, sehingga membuat banyak orang yang ragu atau bahkan takut untuk berpindah ke alam kancah zona ketidaknyamanan. Padahal, kenyamanan yang telah mereka renangi sebenarnya juga diawali dengan ketidaknyamanan. Siapa yang mengawali? Jelas saja mereka yang telah menciptakan kenyamanan tersebut. Oleh karena itu, mari menjadi bangsa yang lebih survive dengan menciptakan kenyamanan dari ketidaknyamanan.

  5. ” Bagaimana dengan kamu? Masih merasa tidak dijajah??!!! ”

    Aku? Aku sedang berpikir untuk jadi “penjajah” πŸ™‚

    Salam kenal dari pinggiran

    POpop

    • salam kenal balik, coretanpinggir….

      akhirnya saya bisa merasakan keduanya. ketiganya bahkan. keluar masuk di wilayah terjaja dan merdeka. juga terkadang merasakan nikmatnya jadi penjajah.

      πŸ™‚

      salam hangat,

      BonX

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: