Hari Pertama RAMADHAN


Bulan Ramadhan. Hari pertama puasa. Apa yang terjadi ya?

Sudah lama kami tak berkumpul bersama. Aku, Stebby yang Kristen; Jamal yang Muslim; Sindu yang Katholik dan Agung yang Hindu, kini berada dalam satu meja di Café Cangkir. Pasti kalian bertanya-tanya, apa yang membuat kami yang mempunyai keyakinan berbeda-beda bisa bersama, bahkan bersahabat? Jawabnya simple: Karena kami mempunyai persamaan. Persamaannya? Persamaannya kami sama-sama bejat soal agama. Kami bersama-sama berkumpul di tempat ini untuk, sekali lagi, bersama-sama merayakan kemenangan kami dalam melaksanakan puasa di hari pertama Ramadhan ini yang oleh Jamal disebut ibadah. Sedang bagiku kusebut  keisengan. Sama-sama merayakan kemenangan kami atas “tuhan” yang suka membuat umatnya tersiksa.

Bagiku, berkumpul bersama mereka adalah proses penyeimbangan. Penyeimbangan bagi duniaku yang terisolir. Terisolir oleh tuhan monotheis yang menihilkan illah / allah / tuhan lain.

Kami tak berbicara soal “tuhan”. Kami tak berbicara soal ibadah. Kami bosan itu. Kami bicara yang ringan-ringan saja. Soal pacar atau siapa wanita yang terakhir kali kami tiduri. Bagi kami, biarlah pembicaraan soal tuhan menjadi milik politisi, orang-orang yang pandai berdebat di televisi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: