BonX dan PEMILU


Horrreeee…. Senang rasanya dapet tawaran dari Litbang KOMPAS Yogjakarta (pimpinan Pak Suryadi) untuk jadi Asisten Peneliti dalam Pilgub Jatim yang dilaksanakan tanggal 23 Juli kemarin. Apalagi aku diberi wilayah Lumajang. Rumah keduaku sejak aku kenal sama Niar dan VodKa. Tentunya tugas ini makin mengenalkanku pada gurat dan kerut rumahku. Lagipula, gimana ga excited, kalo kemarin itu adalah Pemilu pertamaku? Ya. Bener-bener Pemilu pertama lho! Sumpah!! Meskipun usiaku sudah memasuki seperempat abad minggu depan.

Kok bisa Pemilu pertama, BonX?

Soalnya, dulu-dulunya aku anti sangat sama yang namanya pemilu. Anti sangat sama yang namanya partai. Aku GOLPUT. Aku memilih dengan tidak memilih. Aku skeptis. Aku pesimis. Aku potetik. Soalnya, dulu-dulu aku (sampai sekarang pun masih) merasa bahwa Pemilu tidak membawa perubahan sama sekali dalam kehidupan kita bermasyarakat. Pemilu kan sekedar alat penguasa untuk melegalisasi tindakan pemerasan yang mereka lakukan. Pemilu juga sekedar alat untuk nampang di media dan menarik simpati. Pemilu adalah ajang obral janji.

Trus,, kalo begitu sinisnya sama Pemilu, kok sekarang mau ikut?

Ya, soalnya sekarang aku sadar. Kalo aku pikir-pikir, seharusnya ketika aku melihat ketimpangan seperti itu, aku tidak boleh hanya melihatnya saja dan menggerutu. Harusnya aku masuk, terlibat, dan membetulkannya dari dalam.

Apa sekarang juga berpikir untuk berpartai?

Selalu ada banyak pilihan dalam hidup.

Maksudnya?

Liat aja entar…

Milih siapa kemarin?

Boleh ga kalo aku ga jawab? Apa? Ga boleh ya? Clue-nya aja ya? Mmm… aku milih yang aku kenal. Aku milih yang kemarin menyapa aku dan menyalami aku waktu nikahannya anaknya Pak Sis. Puasss???

Lanjut, dalam tugas kali ini, aku diserahi 3 kelurahan yang harus aku pantau. Klakah, Ranulogog dan Sumbersari. Dari 3 kelurahan itu, Ranulogog adalah kelurahan yang paling seru dan menjadi favoritku. Mau tau kenapa? Soalnya, jalan yang harus aku tempuh untuk mencapai TPS yang ditunjuk itu berliku-liku, belum lagi, karena areanya amat suangat terpelosok, banyak warganya (respondenku) yang tidak bisa berbahasa Indonesia (mereka bisanya cuma bahasa Madura), plus rata-rata mereka tidak punya telepon rumah atau HP. Alasan yang ketiga ini akan sangat menyulitkan Konfirmator untuk verifikasi data. Hehehe…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: