100 Tahun Kebangkitan Nasional, Ereksi atau Refleksi?


Oleh: Stebby Julionatan

Sering kali, setiap kali menulis tentang suatu hal yang belum saya kuasai dengan baik, saya pasti mengubek-ubek kamus, mencari apa arti kata sebenarnya dari apa yang ingin saya tulis, mencari arti lugas atau makna leksikalnya. Termasuk kali ini, ketika saya ingin menulis tentang KEBANGKITAN NASIONAL.

Dalam KBBI, kebangkitan yang berasal dari kata bangkit yang mendapat imbuhan ke-an, bangkit bisa berarti bangun, hidup kembali, timbul atau terbit, dan berarti kambuh jika tentang penyakit. Bangkit juga berarti beterbangan ke udara (untuk debu dan partikel kecil lainnya), dan berarti mulai memuai, ketika digunakan untuk adonan roti.

Lalu ketika aku tahu arti bangkit seperti itu, seringkali pula, kotak pikirku yang bercabang dua ini, antara baik dan buruk, antara positif dan negatif, juga mulai mengotak-ngotakkan kata “bangkit” dan menghubung-hubungkannya dengan kata-kata lainya. Yang positif nanti saja dibahas belakangan karena untuk saat ini dia sudah kalah, tertindas tak berdaya, dengan sisi negatif yang mulai berjejalan memenuhi sel-sel neuron di otak dan sudah meringsek maju dengan cepat, bergerak, menyerang, menjajah dan memberi perintah pada jemariku untuk menuliskan apa yang mereka inginkan.

Maka tak salah ketika Descartes berkata: “cogito ego sum”. Saya berpikir maka saya ada. Tubuh saya, sekarang hanyalah anggota-anggota pasif yang diperintah oleh keaktifan pikiran-pikiran “nakal” saya. Seperti mumi-mumi Mesir yang menunggu perintah dari dukun-dukun Firaun untuk bergerak dan menakut-nakuti orang. Seperti air tergenang yang menunggu grafitasi untuk jatuh ataupun daya sentrifugal untuk mengombak. Juga seperti bom waktu yang tinggal pasrah menunggu waktu untuk meledak.

Di sisi negatif pikiranku, muncul kata EREKSI. Lha kok?!

Mmmm… mereka, sisi negatifku, bertanya: Kalau gitu apa bedanya bangkit dengan ereksi? Apakah kebangkitan bisa dikatakan ereksi karena mereka sama-sama tegang? Ataukah ereksi bisa disamakan dengan kebangkitan karena mereka sama-sama berdiri menghujam?

Jawabnya, bisa jadi, bisa juga tidak.

Well, menurut istilah kedokteran, ereksi berarti keadaan tegang yang terjadi pada penis ataupun klitoris karena terisi darah ketika timbul nafsu birahi.

Bagi yang mengatakan sama, bisa jadi semangat kebangkitan nasional kita hanyalah sekedar ereksi ketika birahi. Hanya sekedar euphoria memperingati hari Kebangkitan Nasional yang jatuh setiap tanggal 20 Mei, dan yang kebetulan pada tahun 2008 ini adalah yang keseratus kalinya kita peringati. Ulang Tahun Berlian, istilahnya. Lalu, di saat birahi kita kendur, semangat itu ikutan melentur. Kelamin kita melembek terserang impoten, dan jadi semacam bubur. Hehehe.

Bagi yang tidak sependapat, peringatan Hari Kebangkitan Nasional adalah obor pembakar semangat untuk terus maju dan berkreasi. Hari Kebangkitan Nasional juga merupakan titik refleksi diri untuk mengukur sejauh mana bangsa kita ini telah bangkit memposisikan diri dan juga menghujamkan cakar-cakarnya di perwajahan dunia internasional. Dan

biasanya mereka yang tidak sependapat ini, adalah mereka ini adalah orang-orang yang idealis. Orang-orang yang tak mudah patah arang. Orang-orang yang selalu berjuang untuk kepentingan bangsa dan negaranya. Orang-orang yang selalu menatap masa depan dan memastikan bahwa selalu datang harapan yang baru ketika sinar mentari masih terbit di ufuk timur. (Semoga saya dan Saudara termasuk tipe ini. Amin.)

Sejauh ini saya tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Saya tidak bisa berkata banyak karena saya hanyalah seorang remaja biasa yang kepandaiannya juga pas-pas’an, malah bisa dikatakan bodoh karena kuliah saja tak lulus. Saya bukan pakar politik, pakar ekonomi, pakar kebudayaan atau semacamnya. Saya hanya mampu berkata dari sisi saya, sisi seorang remaja yang melihat semangat kebangkitan dari kesehariannya sebagai seseorang remaja yang masih selalu menyanggong uang kuliah (plus sebatang rokok) dari orang tua. Hehehe.

Tahun kebangkitan Pariwisata

Di sisi positif, pikiran saya berkelana ke arah PARIWISATA. Entah kenapa kata itu yang tiba-tiba muncul ketika EREKSI ber-antiklimaks? Apakah karena saya suka keluyuran, suka blusukan keluar masuk dari sebuah lokasi ke lokasi lainya, menikmati kejutan di setiap sudut-sudut jalan, dan mengumpulkan segenap keindahan yang tercecer di sana?

Jawabnya, saya juga tidak tahu. Tapi yang pasti, saya penyuka keindahan. Dan pariwisata menawarkan keindahan itu. Rangkum saya, kenapa tak sekalian saja kita jadikan pariwisata sebagai titik pijakan pertama saya (mungkin juga Saudara) untuk menandai kebangkitan negeri kita ini.

Seperti kita ketahui bersama, bahwa pada tahun 2008 ini, (kebetulan sekali) pemerintah juga mencanangkan sebagai tahun pariwisata. Visit Indonesia Year 2008. It’s time to visit Indonesia. Bunyi slogan kepariwisataan itu. Tapi apakah cukup slogan saja?

Marilah kita masuk ke inti permasalahannya sekarang…

Usaha pemerintah untuk menunjukkan taringnya di dunia internasional melalui dunia pariwisata sih sah-sah saja.

Saya bilang sah-sah saja karena memang kenyataannya kita negeri yang kaya akan khasanah budaya dan kaya akan keindahan panorama alam. Malah, dalam dunia pariwisata yang sangat erat kaitannya dengan “3S” (sea, sun and sex), tanpa menafikannya, kita sudah punya semuanya. Negara kita adalah negara bahari yang dikelilingi oleh lautan sejauh pandangan mata. Matahari juga selalu bersinar terang tanpa sedikitpun pernah memalingkan mukanya untuk tersenyum kepada kita. Kulit-kulit kecoklatan Melayu pun turut menebarkan aroma sensualitas di sudut-sudut keremangan malam. Fhhuuh.

Intinya, menyiapkan Indonesia as one and only tourism destination untuk menandai 100 Tahun Kebangkitan Nasional adalah pilihan yang tepat asalkan program tersebut bukanlah impian yang direalisasikan dengan gegabah, serampangan, dan tanpa kesiapan. Maksud saya, menyuruh pengunjung (atau yang dalam hal ini disebut wisatawan) untuk datang berkunjung saja tanpa disertai dengan apa yang bakal mereka dapatkan atau terima dari kita selaku pihak tuan rumah ketika mereka menjejakkan kakinya di negeri zambrut katulistiwa ini adalah tindakan yang konyol.

Sebagai contoh (tentang ketidaksiapan kita), tak perlu meninjau terlampau jauh sampai di luar Jawa uintuk melihat kondisi jalan raya sebagai prasarana transportasi yang mendukung sektor wisata. Di Probolinggo saja, yang notabene masih di Jawa, jalan raya untuk menuju lokasi wisata rafting NOARS di sungai Pekalen – Kraksaan, banyak jalannya yang berlubang-lubang ga karuan hingga bikin BT orang yang pengen kesana, padahal wisata arung jeram ini termasuk Segitiga Emas Pariwisata Kota Probolinggo di samping Gunung Bromo dan Pantai Bentar.

Kembali lagi ke persoalan di atas, apakah cukup slogan saja untuk membangkitkan dunia pariwisata kita? Apakah cukup cara kita untuk memajukan dunia kepariwisataan dengan memamerkan khasanah budaya nusantaranya atau keindahan panoramanya saja? Sektor apa saja yang harus kita perbaiki sebagai pendukungnya? Dan sebagai generasi muda, usaha apa yang dapat kita lakukan?

Tentu saja, orang segoblok saya pun kalau ditanya seperti itu, pasti jawabnya belum cukup. Ada banyak hal. Banyak sekali hal yang harus kita lakukan untuk menguatkan otot dan rangka pariwisata negeri ini agar mampu berdiri kokoh.

Kapsul Penguat Tulang

Well, berikut, dari anak remaja yang masih terus bodoh ini, saya coba tawarkan beberapa kapsul CDR, yang seyogyanya bisa digunakan sebagai alternatif penguat sendi dan tulang pariwisata:

Kita mulai dengan merebus… Gupuh, suguh lan lungguh.

Filsafat Jawa Kuno yang begitu sederhana ini telah mengajarkan kepada kita cara yang amat sangat sederhana namun begitu dalam makna serta manfaatnya ketika kita terapkan dalam kehidupan, utamanya dalam memperlakukan tamu atau wisatawan yang datang berkunjung tadi. Bagaimana keriuhan yang terjadi di “dapur” ketika kita mempersiapkan hidangan untuk tamu-tamu kita. Bagaimana ketika hidangan itu siap tersaji, kita mampu menyuguhkan atau menghidangkannya degan baik. Bagaimana memberikan pelayanan yang maksimal bagi mereka. Juga bagaimana menerima mereka degan baik, dengan keramahtamahan yang sudah melekat sebagai identitas bangsa kita. Dan semuanya itu haruslah menjadi suatu kesatuan yang tak terpisahkan.

Lalu tambahkan dengan… kecintaan terhadap budaya sendiri.

Terus terang, saya turut bangga, jika beberapa bulan terakhir ini, kain batik sedang menjadi trend yang tak hanya digemari oleh eyang dan kakung, emak dan bapak, tapi juga in di kalangan remaja. Berbagai macam motif batik dan model baju yang dijual dengan harga beragam, laris di pasaran. (Kalo gini, jadi inget gerakan Swadesi-nya Gandhi. Hehehe.)

Yap, kecintaan terhadap budaya sendiri merupakan cerminan mutlak bagaimana para wisatawan memandang kita. Maksudnya, ketika budaya tersebut mengental dalam darah tiap pribadi, maka hal tersebut membuat kita semakin unik, semakin berbeda, dan menjadi layak untuk diperhatikan oleh siapa saja, termasuk oleh para wisatawan. Sebuah contoh kecil, siapa yang tak kenal Bali? Dan mengapa sebuah pulau yang kecil ini masih mampu menyedot sekian banyak wisatawan lokal dan mancanegara setiap tahunnya meskipun pernah terjadi bom yang menewaskan ratusan jiwa? Tak lain dan tak bukan, karena Bali punya keunikan yang tidak dimiliki oleh daerah lainnya yang ada di muka bumi ini. (Tepuk tangannya dong…)

Di sisi lain, ketika kita punya kebanggaan atas budaya kita sendiri, ga bakalan ada lagi yang namanya budaya bangsa kita dicuri oleh bangsa lain. Tempe, angklung, dan batik mungkin akan selamanya menjadi milik kita. Begitu pula dengan Reog Ponorogo yang belakangan ini menjadi “panas” dipertentangkan.

Berikutnya, penuhi dengan… penguasaan komunikasi dan teknologi.

Mencintai budaya sendiri ibarat berlian, namun berlian tersebut akan tampak lebih berkilau jika kita mampu mengkomunikasikannya dengan baik dan benar.

Kemajuan ilmu komunikasi dan teknologi, secara tidak langsung juga amat berpengaruh bagi dunia pariwisata, utamanya mengenai persebaran informasi. Informasi tersebut dapat berupa informasi tentang tempat-tempat wisata, bagaimana kita sampai kesana, berapa biaya yang harus kita keluarkan, juga keunikan apa yang bisa kita dapatkan di tempat itu.

Dalam teori marketing juga dikatakan, mempunyai barang yang bagus tetapi tidak bisa menjelaskannya kenapa barang tersebut layak untuk dinilai bagus adalah sama dengan berjualan di tempat yang gelap. Tak akan ada orang yang tau sampai kita mau menyalakan stekernya.

Penguasaan komunikasi dan teknologi akan membuat dunia pariwisata kita menjadi dunia pariwisata yang bermuatan lokal namum memiliki citarasa global. (Sampai di sini, tepuk tangannya lagi dong…)

Jangan lupa, taburi… variasi tourism attraction.

Entah apa bahasa Indonesia yang tepat untuk tourism attraction? Atraksi wisata, mungkin. Tapi sudahlah, yang penting, intinya adalah membuat semakin banyak variasi dalam wisata. Dan jangan ragu untuk berinovasi.

Sebagai contoh, di Jawa Timur, dulunya jika kita melewati Tanjung Kodok, yang kita saksikan hanyalah sebuah tanjung dengan sebuah batu karang unik yang berbentuk kodok. Tapi sekarang, apa yang terjadi ketika pemerintah Lamongan berimprovisasi dengan mendirikan Wisata Bahari Lamongan (WBL)? Tanjung kodok yang dulunya adalah kawasan pantai dengan patung karang berbentuk kodok yang menjorok ke arah laut, sekarang menjadi landscape wisata yang amat sangat lengkap. Mau berolah raga air, ada. Mau menikmati sajian musik, ada. Mau tantangan pemicu adrenali, juga ada. Istilah kerennya nih, semuanye neh… ade di sini. Dan apa yang terjadi dengan parawisatawan setelahnya? Tentu saja, terjadi lonjakan wisatawan yang amat significan dari tahun ke tahun sejak WBL tersebut dibangun.

Lalu tutup dengan… peningkatan stabilitas nasional dan keamanan.

At last but not least, sebab hal ini penting untuk menjaring para investor untuk datang. Jangan sampai Bali Blast terulang kembali. Dengan stabilitas nasional yang terkendali dan keamanan, dana mereka akan lebih mulus menggelinding. Yang nantinya, dengan dana tersebut, pemerintah (atau yang dalam hal ini diwakili oleh pelaku wisata) bisa dengan lebih leluasa memberikan warna. Pelaku wisata dapat lebih muda dalam memajukan dan mengembangkan potensi wisata yang sudah dimiliki oleh suatu daerah. Dan hasilnya… kembali pada poin di atas, peningkatan varietas wisata yang akan berimbas pula pada peningkatan laju wisatawan.

Hooooaaaaammmmmppp…

Sekian dulu ceracau dari remaja bodoh. Soalnya remaja bodoh dah nguaaantuk puuoool. Tapi sebelumnya, mari kita dengungkan bersama di sanubari kita…

Hidup Pariwisata Indonesia. Hidup 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Semoga, melalui pariwisata, kita, rakyat Indonesia, mampu mengalami Kebangkitan Nasional yang hakiki. (bonx)

Advertisements

3 Responses to “100 Tahun Kebangkitan Nasional, Ereksi atau Refleksi?”

  1. Hm,, nice “ceracau”.. hehe
    banyak yang harus dibenahi..
    Kasian Indonesia-ku, kaya tapi miskin..
    harus jadi renungan semua orang dan semua pihak (otomatis..)
    pariwisata kan kegiatan yang punya multidimensional effects, jadi harus ada pemberdayaan masyarakat supaya semuanya 1 konsep..
    pemberdayaan di sini maksudnya bukan berarti dikasih BLT gratisan, tapi:
    1. penyadaran potensi diri
    2. pengkapasitasan diri
    3. pemberian kesempatan dalam mengurus (swadiri, swadana, dll……… dan akhirnya swasembada deh..)
    semangat!! ;P

  2. @ it’s me

    terima kasih atas komentar dan kunjungannya. kamu bener. pariwisata emang punya multidimensional effects. jadi, sebagai negara yang kaya akan potensi wisata, seharusnya kita juga bisa jadi negara yang kuat dan maju.
    semoga!!!

  3. Urusan pariwisata ya urusanmu lah, Steb. Aku ga melu-melu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: