JOGJA TOUR… (antara Nasi Kaldu, Onthel dan Sarkem)


Setiap perjalanan wisata mempunyai arti tersendiri bagiku. Termasuk perjalanan wisataku ke Jogja kali ini (2-4 Mei 2008). Mengantar Pak Ateng, dkk. dari KPRI “Handayani” Situbondo, aku harus melewati kota Probolinggo sebanyak 4 kali. Bayangkan! 4 kali melewati kotamu sendiri!! Bener-bener mirip setrikaan, bukan??!!!

Soalnya perusahaan tour n travel dimana aku bekerja memang berbasis di Probolinggo. Yang diantarkan orang Situbondo. Tujuannya ke Jogja. Pastinya dari Probolinggo ke Situbondo, trus lewat Probolinggo lagi untuk ke Jogjanya. Begitu pula arah pulangnya, mengantarkan rombongan Pak Ateng ke Situbondo dulu, yang tentu saja lewat Probolinggo sekali lagi, baru bisa pulang ke kota tercinta, Probolinggo.

NASI KALDU (sup kacang hijaunya orang Jawa)

Bicara soal Situbondo, selain bicara soal tapenya yang sudah membahana itu, kita bisa mulai dan akhiri pembicaraan kita dari Nasi Kaldu-nya. Hehehehe. Aku yang dari rumah lagi ngidam makan tempe penyet, di depan terminal (terminal bus di kota Situbondo, tentunya), aku makan Nasi Kaldu untuk pertama kalinya. Wuenak. Rasanya, nuendang pool… (Tuh makanan khas Situbondo bukan ya??!!)

Well, nasi kaldu tuh mirip Sop Kacang Hijau buatan Mama, tapi bedanya kalo orang Ambon yang buat tuh sopnya bening bersih. Tapi kalo di Nasi Kaldu Situbondo warnanya agak kecoklatan. Kuah supnya pun lebih kental di Situbondo, soalnya kalo Mama yang buat, Mama kan tau kalo aku ga suka yang lemak-lemak. Dari rasa,, masakan mamaku, ato kebanyakan masakan tipe-tipe sup di orang Ambon, lebih berasa hangat dan pedas karena bumbu palanya. Bedanya lagi, kalo di Situbondo disajikan sama krupuk, sedang di rumah, biasanya sup kacang hijau disajikan dengan tempe yang digoreng tipis-tipis. Mmmmm… yummy. Bikin ngiler ya??!!

So… buat kamu-kamu yang hobi wisata kuliner, jangan lupa buat nyobain makan Nasi Kaldu di depan terminal Situbondo, ya. Dijamin!!! Pasti bakal penasaran buat nyobain lagi deh. Hehehehehe.

Jogja era Gen-X (saat Onthel terlibas efisiensifitas)

Di Jogja kami dipandu oleh Mas Cholik. Dia adalah guide lokal yang kami sewa untuk mengunjungi 6 objek wisata plus 2 kunjungan kerja. Karena ini dari koperasi, maka yang dikunjungi juga koperasi. Koperasi Batik Senopati di Jogja dan Koperasi Pengerajin Perak di Kota Gede. Kalau objek wisatanya, ada Kraton Jogja, Pantai Parangtritis, Malioboro, Monjali, Candi Borobudur, dan berakhir di Pasar Klewer – Solo.

Tak seperti 20 tahun yang lalu, jalanan Jogja yang sekarang aku lihat tak lagi penuh dengan onthel (baca: sepeda kumbang) yang dikayuh oleh pria-pria berblangkon. Sepeda-sepeda itu sudah diganti dengan motor, dan tentu saja, blangkon-blangkon itu telah berganti dengan helm-helm besi yang menutupi keramahtamahan masyarakatnya. Tak lagi pula kulihat cikar-cikar beroda raksasa yang menghiasi sudut-sudut jalan, sebab meraka kini juga telah tergantikan oleh TransJogja. (Ada… aku lihat cikar, bahkan sempat juga naik. Tapi adanya, sudah tersingkir di Parangtritis. Dan… tak lagi memakai roda kayu raksasa, tetapi roda truk yang terbuat dari karet.) Untung saja, batik masih belum tersingkir dari rutinitas dan keseharian masyarakat Jogja. Sehingga kerinduanku akan Jogjakarta 20 tahun yang lalu, sedikit terobati.

SARKEM (pasar “KEMBANG”)

Aku menginap di Hotel Gloria Amanda. Hotel mini yang cukup cantik dengan fasilitas kolam renang di tengah. Tempatnya masih di seputaran Malioboro, sehingga malamnya, ketika acara bebas, dengan berjalan kaki kita bisa menikmati serunya berbelanja dan menawar batik serta kerajinan Jogja lainnya di Malioboro. Dan tentu saja, yang paling menarik dari hotel ini adalah karena hotel ini dekat dengan Sarkem. Hoi pemirsa… ada yang tau ga, apa itu Sarkem????!!!!

(kita simpan dulu jawabannya)

Dalam rumus pariwisata terkenal dengan istilah 3S (sun, sea, dan sex). Di Indonesia kita tak usah khawatir dengan kehangatan sinar matahari. Laut,, kita sudah mengunjungi Parangtritis. Bagaimana dengan S berikutnya? Nah, S berikutnya ini bisa kita temui di Sarkem.

Correct… Sarkem tuh Dolly-nya Jogja. Sebuah tempat lokalisasi yang sudah dilegalkan oleh pemerintah Jogja. Barang… menurutku sih lebih cantik-cantik di Dolly. Tapi kalau soal harga dan pelayanan… hehehehe… (no comment).

6 Responses to “JOGJA TOUR… (antara Nasi Kaldu, Onthel dan Sarkem)”

  1. salam kenal thk dah mapir di blog saya.
    jogja emang keren
    gak salah aku menempuh pendidikan tinggi di sana
    sejuh dan adem

  2. enak tu broooo.. btw brapa tarif hotel dan psknyaaaa.. kykny mo ksana niee

  3. Aku orang asli Situbondo yang sekarang melanjutkan pendidikan di Yogyakarta. Aku malu sebagai orang Situbondo karena aku belum pernah cobain nasi kaldu depan terminal. Aku udah sering coba berbagai macam masakan ala Situbondo……
    Semuanya enak….
    Dengan Nasi Kaldu “Kacang Hijau” aku pernah coba……
    AKU KANGEN SITUBONDO>>
    Udah lama ndak pulang.
    Biasanya pulang ke Jogja cuma sehari,,….
    Aku mau pulang…
    Makan nasi kaldu…
    Ada yang mau ikut…
    he……he……..

    • kasihan ya orang situbondo kok belum nyobain nasi kaldu. hehehehe…

      salam kenal mas endi
      dari anak probolinggo yang suka keluyuran

  4. setiap kali jalan ke yogya pasti tidak lupa mampir ke sarkem, sekedar pelepas penat dan melampiaskan naluri badaniah.
    gak repot, masuk ke gang kecil, ssilakan pilih….
    mau cerita lebih lanjut pls email ke saya :
    nikoaditya137@yaahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: