They call me SAHWI


Aku berangkat ke Bali lagi. Kali ini mengantarkan tamu-tamu Thailand dari Advance Agro, Co. yang lagi ada kepentingan kerjasama ma PTKL . Chiu, Qi dan Hitam. Well, itu bukan nama mereka yang sebenarnya. Tapi label dariku yang kesulitan melafalkan nama-nama aneh bin ajaib mereka. Lalu mereka rupanya tak mau kalah dalam melabeli diriku. Sahwi. Yes, they call me Sahwi. And they said he is a popular singer in Thai. (NB: Jangan tanya aku kenapa aku dipanggil begitu. Sumpah. Aku ga tau alasane.)

Tour de Bali sih ceritanya standart-standart aja. Ga seru lagi kalo di ceritakan. Paling juga paginya lihat sun-rise di Pantai Sanur, lalu sarapan di RM. Padang, dilanjutkan dengan melihat pertunjukan Tari Barong di Sekehe, Gianyar, lalu ke Rumah Adat Galuh, ke Kerajinan Perak, ke Pasar Seni Sukawati, lalu ke Tanjung Benoa untuk watersport plus makan siang, lalu ke GWK dan check in hotel. Mmm… kita sengaja ga menyertakan Joger atau Pantai Kuta dalam kunjungan kali ini karena memang hotelnya sudah di depan Pantai Kuta. Besoknya kita tinggal pergi ke Bedugul dan Tanah Lot trus udah, kita pulang. Selesai.

Tapi yang seru dan yang ga akan kulupakan adalah blusukan lokasi hiburan malam ala Moamar Emka. Well, you know lah, talking about Thai is talking about their sexual desire. About sex tourism. Maka mulailah perjalananku ke tempat-tempat “begituan”: Mulai dari mencari gadis-gadis Bali di pinggiran Pantai Kuta seharga 300ribu rupiah sekali pakenya, sampe warung remang-remang pinggir jalan di Banyuwangi yang sanggup men-service tamu-tamuku dengan harga 30ribu rupiah. (Maklum tamu-tamuku ini still collage student. Masih muda-mudah dan memang suka yang murah-murah. Harga Pelajar getoo.) Tapi terus terang, aku lebih suka mengantar mereka-mereka ini meski mereka “nakal-nakal”. Soalnya mereka-mereka ini ga munafik kaya orang-orang dewan yang pernah kuantar. Sok bertabir di bawah kata workshop atau kunjungan kerja tapi ujung-ujungnya tetep aja clubbing, drink and of course… sex. Malah pernah, pas itu aku ikut nganterin dewan untuk workshop di Hotel Tunjungan, Surabaya. Dari rencana tiga hari workshop-nya, cuma diambil yang sehari aja. Sisanya… mereka pake untuk “karoke-an”. Geelllaaaa…. uang rakyat kok dipake buat main-main?!

Back to these Thai… dengan harga yang sudah semurah itu, mereka masih bilang kalo harga cewek di Indonesia mahal. (Dengan konversi bath ke rupiah). Padahal kalo ukuran orang Indonesia, harga segitu kan udah termasuk PaHe. Mmmm… buat aku jadi berpikir, enak banget ya tinggal di Thailand, di sana ongkos nge-seks murah. Hahahahahaha…..

3 Responses to “They call me SAHWI”

  1. astaga.

    *pingsan*

  2. Enak nh krjany traveling gua mau krj ka lo B…tp rda aneh aja,”why they call you SAHWI?mang mirip y B….hahahahaha

  3. keseringan sujud sahwi cz shalat shubuhnya lupa mulu baca doa qunut kali…makanya disebut SAHWI.. hehehe😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: