PENG . ABDI . AN


Seoarang SAMURAI mengabdi pada pedang-nya; seorang GURU mengabdi pada pemikiran-nya; sedang seorang PELACUR mengabdi pada kebebasan-nya.

Seorang PENARI mengabdi pada tubuh-nya; seorang PENDETA mengabdi pada kelamin-nya. (Kok? Ya… kan mereka adalah orang-orang yang harus berada di garda depan sebagai orang-orang yang lihai menaklukkan hasrat dan nafsu keduniawian.) Lalu dengan cara apa pengabdian seorang DUTA WISATA diukur?

Dan mengapa aku menulis demikian?

Sebab hari ini aku mendapat telepon dari salah seorang teman, sebut saja namanya Faiz. Dia adalah salah satu Finalis Kang Kota Probolinggo 2006 yang sekarang bekerja di Dinas Pariwisata. Dia memintaku membantunya membuat website Dinas Pariwisata Kota Probolinggo. Aku tidak mau. Maksudnya, aku tidak mau kalo “gretong”an. Gila apa, kerja secara gratisan?! (Temen ya temen… kerja ya kerja… bisnis kan ya harus bisnis dunk!) Lalu temanku itu memohon-mohon dengan bertameng di balik sila Pengbadian kepada Dinas Pariwisata. Eittss… tunggu dulu, apa sih yang dimaksud dengan pengABDIan?

Menurut KBBI, pengabdian adalah proses, cara, perbuatan mengabdi atau mengabdikan. Seorang abdi sendiri berarti orang bawahan, pelayan, hamba atau malah bisa berarti budak tebusan. Yang berarti, dengan kata lain, pengabdian adalah perbuatan menghamba. Well, berarti kalo orang-orang seperti temanku itu sih wajar kalo pekerjaannya adalah menbabdi, sebab dalam KBBI juga ditemukan kalo pegawai negeri itu abdi Negara. Kalau aku… kalo gue… gue kan bukan abdi Negara, lalu kenapa harus dituntut pengabdiannya kepada Dinas Pariwisata??!! Apa karena aku pernah menjabat sebagai duta wisata??? Apa karena aku Kang Kota Probolinggo 2006???

Well, terus terang aku tidak mau jadi kacang yang lupa kulitnya. Terus terang, menjadi duta wisata membuka banyak jendela dalam kamar kehidupanku. Tapi bukan itu yang aku cari. (Rupanya perlu aku tekankan lagi: Aku ingin menjadi penulis… dan duta wisata adalah salah satu jalannya.) Banyak pemikiranku yang tidak terakomodir oleh Dinas Pariwisata ketika aku masih menjabat. Sebab, terus terang lagi, aku tidak suka kalo hanya tampil ayu-ayu’an dan menjadi penjaga pintu. Padahal dulunya aku berharap pemikiran-pemikiranku untuk perkembangan kotaku tercinta ini juga diperhatikan.

Intinya… banyak pengalaman yang berkaitan dengan kepariwisataan yang aku dapatkan setelah aku bekerja di Gilang T&T ketimbang yang aku dapat ketika aku masih menyandang gelar Kang Kota Probolinggo. Sebuah tamparan yang manis, bukan??!!

So… don’t blame me cuz I not serve you well.

Advertisements

4 Responses to “PENG . ABDI . AN”

  1. apa yang sudah aku lakuin selama ini apakah sudah termasuk pengabdian belum raka?? 😉

  2. Aku suka sama apa yang selama ini Mz Bim berikan buat IRARI. Mengenai hal itu pengabdian ato bukan, tentu saja hal tersebut pengabdian.

    Well, rupanya ada satu lagi bahasan yang belum aku beberkan mengenai pengabdian, yaitu tentang KEIKLASAN. Maksudnya begini, pengabdian adalah ketika kita iklas melakukannya. Tanpa pamrih. Tanpa embel2 ato maksud apapun di balik perbuatan kita. Terlebih lagi bukan karena paksaan atau keterpaksan meng”iya”kan sila Pengabidan kepada Dinas Pariwisata seperti yang aku alami.

  3. gua dukung lo B..smw hrs ttp profesional n hrs tau btasan serta proporsinya,mana tmn..mana mnta tlg..mana kerjaan..ok..

  4. dr.sujitno.mph Says:

    tidak aku jadikan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepadaku. jadi tugas manusia di dunia tidak lain dan tidak bukan kecuali untuk menjalankan pengabdian. pertanyaannya: pengabdian definisi operasionalnya apa? mengabdi pada hakekatnya adalah berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain tanpa merasa pernah berbuat ( ikhlas ) dikerjakan sesuai dengan syariat agama dan tidak bertentangan dengan aturan negara.
    supaya bisa memenuhi kriteria itu? harus ada rasa dekat kepada Allah. supaya dekat? ada rasa cinta. supaya cinta? hatinya harus bersih. supaya bersih? amal dan ibadah yang diterima. supaya diterima? balik lagi. hatinya bersih.
    pertanyaan berikutnya bagaimana agar bisa membersihkan hati secara cepat! mudah banget kok! datangi seorang kubarok yaitu beliau yang ulama dan juga yang hukama. kubarok adalah beliau yang menguasai ilmu agama dan “diparingi” makrifatbillah. siapa yang memasuki tempatnya kubarok ” kepancaran barokahe” siapa yang “nderek kubarok ketularan drajate”. it’s that simple.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: