BonX dan Literatur


24, male, single and have an ambition to get Katulistiwa Literary Award at 27. “Menulis adalah upaya untuk menjadi diri sendiri.” Mungkin kalimat itulah yang dapat saya gambarkan untuk menjelaskan diri saya dan tentang alasan kenapa saya suka menulis. Mungkin alasan lainnya adalah karena saya dilahirkan di keluarga pencerita. Mama saya, yang juga seorang guru Bahasa Indonesia, suka bercerita. Oma saya juga suka bercerita. Malah beliau termasuk pencerita yang handal. Saya ingat ketika saya masih kecil dulu, saya tak bakal dapat tidur dengan nyenyak tanpa mendengar dongeng-dongeng Oma. Dongeng tentang Anak Itik Buruk Rupa dan Kue Jahe adalah dongeng kesukaan saya.

Menulis juga membuat saya merasa berkuasa. Membuat saya selalu sebagai subjek. Sebagai Tuhan, Kreator Agung dan Penentu bagi tokoh-tokoh dalam cerita saya. Yang akhirnya membuat saya membenci aturan, norma-norma, pranata sosial dan institusi yang ada di masyarakat sebab saya merasa bahwa saya bisa membuat aturan sendiri. Kenapa saya perlu diatur dengan pranata-pranata tersebut? Hal itu berat, tapi mau bagaimana lagi? Sudah menjadi konsep hidup dengan “saya memilih dengan tidak memilih. Bahkan, setelah mendengar pendapat saya tentang pranata tersebut, salah seorang sahabat saya pernah berkata demikian: “Sebenarnya itu senjata yang bermata ganda bagi dirimu. Di satu sisi hal tersebut bisa membuatmu sukses sebagai penulis eksentrik, sedang di sisi lain kamu akan benar-benar sendirian.” Dia malanjutkan. “Sebenarnya pranata dibuat bukan untuk mengukung kita, melainkan menghormati hak-hak kita dan juga hak-hak orang lain yang senantiasa bersinggungan. Dan dalam kehidupan ini, semakin dewasa kita, maka kita akan semakin diikat dengan berbagai pranata.”

Aturan… Norma… Pranata… Institusi…
Saya terlanjur membenci institusi, termasuk institusi pernikahan yang selalu diagung-agungkan oleh sebagian orang. Saya jadi heran, kenapa menikah selalu menjadi titik kewajaran banyak manusia. Sebagai titik netral. Titik nol. Dan tidak menikah selalu bernilai -1. Malah bisa jadi menikah dengan banyak istri bernilah +2. Lalu bagaimanakah dengan menikah dengan banyak suami? Apakah masih bernilai sama atau malah turun nilainya menjadi -2, dibawah nilai menikah tapi tidak memiliki anak alias mandul yang juga bernilai -1?

Menulis adalah sebuah filosofi. Menulis adalah pandangan hidup. Maka ketika Rene Decrates berkata Cogito ego sum, saya akan berkata Opto ego sum. Menulislah… maka kau akan ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: