LAN; Menafsir Ulang Kisah Masa Lampau–(Sebuah resensi buku)


by Yeti Kartikasari Lestiyono on Wednesday, December 26, 2012 at 10:56pm ·

Judul Buku                            : LAN

Penulis                                  : Stebby Julionatan

Tebal buku                            : 201 hal + viii

Penerbit                                 : Bayumedia Publishing

Penata Isi                              : Aprilia Wishnu Putrie

 

 

Revolusioner. Begitu kesan pertama ketika membaca novel bercover warna gelap dengan gambar futuristik ini. Sebuah opening apik dua paragraf untaian puisi pujangga besar dari Bsari, Lebanon-Kahlil Gibran menjadi ”pintu” dimulainya novel LAN.

 

Alunan nada musik adalah bidadari

Yang tinggal di kerajaan para Dewa

Bidadari itu jatuh cinta pada manusia

Lalu ia turun ke bumi menemui manusia.

 

Namun ketika para Dewa mengetahuinya,

Mereka menjadi murka dan mengutus angin topan.

Maka topan pun memburu sang bidadari.

Menaburkannya di awang-awang.

Menebarkannya di lorong-lorong bumi.

Tapi jiwa musik tidak mati begitu saja,

dan tinggal di sudut-sudut pendengaran manusia.

 

(Kahlil Gibran- Musik Dahaga Jiwa).

 

Bab I bertajuk  “Di Sudut Pikiran”, disajikan penulis dengan gaya penceritaan yang ”mudah” dan sederhana. Mengingatkan gaya bahasa yang digunakan  cerpen-cerpen majalah ANEKA atau HAI. Sangat remaja. Tapi, saya akui pada bab pertama ini bisa ”membawa” pembaca untuk ” sebentar bernostalgila dengan kenangan masa sekolah.

 

Tokoh utama dalam cerita ini Erlan, atau yang biasa disapa Lan, sekaligus menjadi judul novel pertama Stebby Julionatan. Diceritakan sebagai siswa kelas 3 SMU negeri 1 Probolinggo. Seorang remaja tanggung yang ”biasa-biasa” saja.  Menghabiskan waktunya sepanjang pagi hingga siang di sekolah. Lalu sepulang sekolah, membantu menjaga dan melayani tamu kafe, usaha yang dimiliki pamannya.

Suatu hari, ada hal tak biasa menghampiri hidup Lan. Ketika suatu malam, saat ia hendak pulang dari kafe, tiba-tiba seorang gadis yang belum pernah ia jumpai, menawarinya menumpang mobilnya. Dalam perjalanan singkat itu, si gadis mengenalkan diri sebagai Maria. Ajaibnya, si gadis itu tahu banyak tentang sosok Erlan. Bahkan terang-terangan mengakui sebagai pengagum rahasia LAN. ”Tenang saja aku sudah mengamatimu sejak lama, anggap saja aku adalah salah satu pengagum rahasiamu yang baru sekarang ini kau temukan.”

Jujur, babak pertama novel ini belum mampu menyeret saya sebagai pembaca awam untuk melibatkan emosi terlalu jauh. Baik dari segi tokohnya, setting tempat maupun cerita yang dijalin.

 

”Lompatan” besar terjadi ketika masuk babak 2 hal 21. Hopliton & Hesta. Sebuah judul provokatif yang menghentak sekaligus menjadi tanda tanya besar bagi saya. Terutama apa kaitannya dengan bab I yang bersetting kota Probolinggo? Sedangkan bab 2 dibuka dengan Athena. Sebuah negara yang jauh di belahan Eropa. Sampai di sini, sebagai pembaca awam, pikiran saya mulai ”kalut”. Mencoba menghikmati baris demi baris yang membawa ingatan pada jaman SMU tepatnya di kelas bahasa. Ya, karena membaca bab ini seolah ”belajar” sejarah budaya lagi. Parthenon, citadel, horos, bangsa Myceane. Lalu ada Iliad dan Odyssey.  Sungguh terminologi-terminologi yang tidak asing bagi mata dan pikiran saya. Jadi teringat segepok kartu pos yang belum lama ini dikirimkan sahabat dari Eropa. Gambar-gambar keindahan Greece dan kegagahan Parthenon. Membuat saya yakin bahwa cerita ini ada semacam ikatan dengan apa yang (pernah) saya pelajari belasan tahun silam dan referensi yang saya baca. Klik. Babak kedua ini juga bertaburan catatan kaki, untuk menerangkan istilah-istilah penting.

 

Tiran. Socrates. Meletos. Heterae, Zeus, Asklepios. Lembar-lembar yang menebarkan sejarah kejayaan Romawi. Pada titik ini, saya (kembali) di hadapkan pada kebingungan menjadi. Pertanyaan masih sama. Apa hubungan babak pertama dan kedua? Apakah yang sedang saya baca sebuah novel yang ceritanya merupakan kesatuan utuh atau sebuah kumpulan cerita?

 

Karena ingin meyakinkan diri bahwa yang saya baca adalah sebuah novel, dan akan menemukan tokoh LAN yang disebut di awal kisah, maka saya ”terpaksa lari” menuju bab-bab pertengahan, tepatnya pada episode ”Bunga Kasih Bersemi Kembali (hal 113).” Saya bernafas lega ketika bersua kembali dengan SMU Negeri 1 Probolinggo yang menjadi setting mula-mula novel LAN. Dan tentu saja tokoh Erlan dan Maria. Sampai pada judul ini saya mengambil jeda. Untuk kemudian melanjutkan membaca lagi.

 

Terus terang, trik yang saya gunakan untuk membaca novel ini adalah dengan teknik baca maju-mundur. Artinya dari babak pertama sampai babak terakhir, saya membacanya tidak berurutan. Mengapa? Seperti yang sudah saya singgung di atas, novel ini menciptakan ”mata rantai” yang ”seolah-olah” sempat putus. Ini kentara sekali pada peralihan bab-bab awal yang tidak didahului dengan semacam ”aba-aba” bahwa ada jalinan berlanjut setiap episodenya. Mudah saja sebenarnya, membuat antar bab adalah satu kesatuan utuh yang tidak membuat pembaca jadi ragu. Misalnya setelah bab 1 usai, pada bab 2 mestinya diawali dengan kata ”sementara itu”, atau ”16 abad lampau” atau ”ribuan tahun cahaya lalu” atau apapun itu. Penegasan itu menurut saya penting. Terutama bagi pembaca awam yang ”diayun” nostalgia pada lembar-lembar pertama. Kemudian, seolah ”dipaksa” untuk menyantap hidangan kelas berat.

 

Ya, sejarah bukanlah hal yang ringan bagi sebagian kalangan. Apalagi memahami kehidupan masa lampau yang ”nampaknya” pelik. Tidak melulu berkaitan dengan sebuah tempat, atau tokoh-tokoh penting saja melainkan berhubungan pula dengan politik pada masa itu, intrik yang melingkupinya serta mau tidak mau harus ”menjinjing” pula kajian-kajian filsafat yang tidak bisa dibaca sebatas angin lalu.

Apalagi kemudian ketika beranjak meninggalkan bab 2, semakin matang saja kajian sejarah yang dihidangkan. Bab 3 Rumor dan Sedki, membawa ingatan pada Firaun, raja diraja dari tahta jazirah Mesir. Ya, setting Mesir tersaji dengan gamblang pada baris-baris awal kisah ini. Kembali, terminologi-terminologi sejarah berserakan, sebut saja; Giza, piramid, Cleopatra, Amon Ra, dan papyrus. Sama dengan kisah pendahulunya, catatan kaki juga dijumpai pada halaman-halaman ini. Setidaknya saya menjumpai 10 catatan kaki untuk menjelaskan istilah-istilah tersebut.

 

Bagi awam, catatan kaki merupakan hal penting untuk mengajak pembaca memahami apa yang tengah dibicarakan dalam tulisan. Tetapi, pendapat saya, tidak selalu catatan kaki itu perlu, terutama untuk buku semacam novel. Kecuali bagi karya ilmiah, thesis, skripsi atau tulisan-tulisan ”kelas berat” lainnya. Karena, tentu ini juga mengganggu mood pembaca. Ingat, yang tengah dibaca ini adalah sebuah novel bukan hasil riset.

 

Saya jadi teringat pada penulis Dee—Dewi Lestari yang kerap menggunakan banyak catatan kaki seperti pada novelnya Supernova. Ini juga terjadi pada beberapa buku Ayu Utami dan tulisan sahabat saya, Junior Hafidz Hery (penulis buku Tan Malaka Dibunuh). Kalau satu atau dua catatan kaki yang dibuat, memang masih bisa dimaklumi. Tetapi ketika pada setiap halaman dijumpai catatan kaki tentunya ”terasa berat” . Saya ”masih bisa” bertoleransi ketika menyadari bahwa novel yang tengah saya baca adalah (juga) sebuah buku sejarah yang ditandai dengan hamburan catatan kaki. Tetapi, ada satu kelemahan dari tulisan Stebby ini ketika, tidak dicantumkan referensi apa saja  yang digunakan dalam penulisan novel ini. Ya, meskipun, ada beberapa bagian yang merupakan fiksi belaka, tetapi untuk hal-hal yang otentik dalam sebuah sejarah, tentunya ada referensi yang ”wajib” dicantumkan dalam penjelasan yang diberikan. Seperti lazimnya tata cara penulisan catatan kaki. Tetapi, saya ”bernafas” lega ketika di halaman 44, penulis mencantumkan referensi pada catatan kaki yang dibuat, ”Tulisan yang terletak di dinding istana pada waktu raja Belsyazar berkuasa di Babylonia (Daniel 5:25). Pada saat itu……..dst…dst…” Kutipan yang rupanya di ambil berdasarkan ayat pada alkitab,  Daniel 5: 25.

 

Mengapa pencantuman referensi demikian penting? Tentu saja, karena yang ditulis (mungkin) adalah hasil kajian orang lain yang diketengahkan dalam buku, riset atau apapun. Saya yakin, penulis juga sepenuhnya memahami kaidah penulisan yang baik. Sehingga tidak sembarang menuliskan sesuatu tanpa menyebutkan asal usulnya, karena berkaitan dengan karya intelektual. Apalagi kemudian, pada halaman akhir juga tidak dituliskan buku-buku atau catatan yang “memerkaya” novel LAN. Ini menjadi catatan kelemahan yang seharusnya tidak perlu terjadi apabila penulis berhati-hati dalam merangkai cerita yang juga menyuplik sejarah.

 

Pada episode-episode berikutnya, pembaca diajak berkelana ke dataran Hindustan, melalui Bhagavad & Pooja, kemudian berlayar ke Machu Pichu, di belahan Amerika dengan kisah Darius dan Lumei. Kemudian beralih ke lembah sungai Huang Ho, di Cina dengan Fan Li dan Wu Dan, terbang ke kota suci Mekkah melalui Hassan & Zuleika. Kita juga diajak mengembara ke Jerman dengan kisah Edith & Olivia, lalu kembali ke Indonesia melalui cerita Philip dan Nurahmi.

 

Pengembaraan cerita yang menurut saya  tidak sistematis, sporadis, berlompatan karena tempat-tempat yang menjadi latar belakang antara kisah satu dengan yang lainnya berjauhan secara geografis.  Sungguh sebuah perjalanan melelahkan, pun dalam pembacaan sebuah buku. Bagi saya selain menjadi kelemahan, poin ini sekaligus menjadi keunggulan novel LAN. Mengapa? Sejujurnya, tidak mudah meramu sebuah novel yang juga mengusung sejarah. Akan tetapi, penulis dengan piawai mampu menuliskan kembali sejarah pada masa lampau dan memadukannya ke dalam sebuah fiksi. Melalui gaya penceritaan yang “nyastra” melalui diksi yang dipilih.

 

Ibarat sebuah perjalanan pesawat, pembaca novel ini  diajak berputar-putar dahulu di landasan pacu, sebelum akhirnya menahan spot jantung ketika pesawat ancang-ancang hendak take off. Di udara, penumpang disuguhi beragam pemandangan; laut, gunung, danau, kabut, cuaca buruk, angin yang mampu menggetarkan pesawat dan tentu saja perasaan berkecamuk. Bagi sebagian orang yang terbiasa berpejalanan udara, hal-hal semacam itu lumrah terjadi. Tetapi bagi sebagian orang yang baru mengalami terbang di udara, menjadi semacam kecemasan, kekhawatiran dan (mungkin) trauma tertentu. Pun, ketika penerbangan mulai stabil, penumpang sudah mulai bisa membuka sabuk pengaman dan menikmati perjalanan. Sampai akhirnya landing dengan selamat setelah melalui proses persiapan pendaratan yang mendebarkan.

 

Kekuatan lain dalam novel ini adalah pada bagian-bagian terakhir yang ”memertemukan” lagi dengan tokoh tama kisah ini; Lan, Maria dan Galih. Setelah melalui kisah-kisah sejarah yang “sepintas” tidak nyambung dengan babakan awal novel ini.  Justru itu yag memerkuat kisah percintaan sederhana ala remaja namun diramu dengan intrik dan politik antar tokoh. Sehingga cerita yang (mestinya) biasa menjadi sesuatu yang istimewa.

 

Membaca LAN, bagi saya pribadi adalah semacam ”membuka memori” tentang sejarah yang pernah menjadi pelajaran favorit saya sejak SMP. Sebagaimana orang jatuh cinta, saya pun menghikmati setiap kali menerima pelajaran sejarah. Dan itu yang membuat nilai-nilai sejarah saya tak pernah kurang dari angka 8. Bahkan ketika SMU, angka 9 lah yang menghiasi kolom nilai.

 

Membaca LAN, juga berarti menafsir ulang kisah masa lampau secara   “revolusioner” yang disajikan penulis melalui pengisahakan imajiner. Membaca Stebby juga bermakna sebagai pengingat, bahwa apa yang kita kerjakan hari ini, esok dan seterusnya tidak boleh mengabaikan sejarah. Percaya atau tidak, bagi sebagian orang, reinkarnasi dan karma itu nyata adanya. Membaca Erlan, sama halnya dengan menerima diri sepenuh hati apapun yang kita miliki dan berserah diri atas banyak hal yang kita tempuhi. Membaca novel ini membangkitkan semangat diri untuk mencatat kejayaan seperti halnya kemasyuran masa lampau. Lepas dari segala kekurangan yang ada di buku ini, dua jempol untuk penulis yang dengan keberanian dan keuletannya memilih, memilah dan menafsir kembali untaian sejarah yang terserak di masa dulu. Sebuah dongeng percintaan revolusioner sekaligus visioner.**

 

 

Pada sebuah perjalanan, 26 Desember 2012–Sebab Sejarah tak boleh dilupakan apalagi tak diketahui!!!

 

18.00-22.56 WIB

 

LAN, Stebby Julionatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,519 other followers

%d bloggers like this: